Konvensi Nasional Media Massa dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) 2026 menjadi ajang konsolidasi insan pers untuk menghadapi tantangan era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Forum ini mengangkat tema “Literasi AI dan Transparansi Digital: Membangun Ekosistem Informasi untuk Kepentingan Publik”.
Melalui tema tersebut, konvensi menegaskan komitmen pers nasional untuk menjaga kualitas informasi sekaligus memperkuat kepercayaan publik di tengah derasnya transformasi digital.
Konvensi Nasional Media Massa HPN 2026 dihadiri sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan di bidang pers. Di antaranya Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid, Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria, Ketua Dewan Pers Komaruddin, Ketua PWI Ahmad Munir, Ketua JMSI Teguh Santosa, serta jajaran pengurus konstituen Dewan Pers lainnya.
Dalam forum tersebut, para narasumber menekankan bahwa perkembangan AI membawa peluang besar sekaligus tantangan serius bagi dunia jurnalistik. Karena itu, literasi AI dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar insan pers dapat memanfaatkan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab, tanpa mengabaikan prinsip dasar jurnalistik seperti verifikasi, akurasi, dan independensi pemberitaan.
Selain literasi AI, isu transparansi digital dan penguatan etika jurnalistik juga menjadi sorotan. Di tengah maraknya disinformasi dan misinformasi, media massa dituntut tetap menjadi rujukan utama publik untuk memperoleh informasi yang kredibel, berimbang, dan dapat dipercaya.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan peran media kian strategis di era digital. Ia menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi perlu dibarengi tanggung jawab etik agar transformasi digital benar-benar memberi manfaat bagi kepentingan publik. Pernyataan itu disampaikannya dalam konvensi yang digelar pada Minggu, 8 Februari 2026.
Melalui Konvensi Nasional Media Massa HPN 2026, forum ini diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis untuk memperkuat ekosistem pers nasional. Konvensi juga diharapkan mempertegas peran media massa sebagai pilar demokrasi di tengah percepatan transformasi digital.

