Sebuah klaim yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa kematian pada kelompok usia 25 hingga 44 tahun di Amerika Serikat meningkat 84% setelah peluncuran vaksin COVID-19. Klaim tersebut menarasikan seolah lonjakan kematian terjadi karena vaksin.
Namun, laporan Reuters menyebut klaim itu keliru. Pusat Statistik Kesehatan Nasional (NCHS) di bawah Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa data sementara pada basis data CDC WONDER tidak menunjukkan adanya persentase peningkatan kematian yang mencapai 84% sejak 2019 untuk kelompok usia 25-44 tahun.
Selain itu, data CDC menunjukkan penyebab kematian lebih banyak terkait COVID-19, bukan akibat vaksin COVID-19. Informasi ini menegaskan bahwa peningkatan kematian pada periode pandemi tidak dapat serta-merta dikaitkan dengan vaksinasi.
Data berbentuk grafik juga menunjukkan bahwa lonjakan kematian pada 2021 berkaitan dengan prevalensi varian Delta pada musim panas, yang kemudian diikuti varian Omicron pada akhir tahun. Perkembangan varian tersebut disebut menyebabkan peningkatan besar kematian akibat virus COVID-19 di Amerika Serikat, terutama di antara mereka yang tidak divaksinasi.

