Fenomena aphelion kembali ramai dibicarakan di media sosial setelah sebuah unggahan viral pada Juli 2025, yang ditonton lebih dari 10 juta kali, mengaitkannya dengan suhu udara yang terasa lebih dingin di Indonesia hingga munculnya keluhan kesehatan seperti flu, lemas, dan menggigil.
Unggahan tersebut menyebut 14 Juli 2025 sebagai hari ketika Bumi berada di titik terjauh dari Matahari dan menyimpulkan kondisi itu sebagai penyebab udara dingin dan meningkatnya orang sakit. Namun, hasil pemeriksaan fakta menyatakan klaim tersebut tidak tepat.
Aphelion adalah peristiwa tahunan saat Bumi berada pada jarak terjauh dari Matahari, sekitar 152 juta kilometer. Jarak ini hanya berbeda sekitar 5 juta kilometer dibanding perihelion, yakni titik terdekat yang umumnya terjadi pada awal Januari. Secara persentase, perbedaannya sekitar 2% dari jarak rata-rata Bumi ke Matahari.
Selain itu, aphelion pada 2025 disebut terjadi pada 4 Juli, bukan 14 Juli seperti yang beredar dalam unggahan viral. Dari sisi ilmiah, perbedaan jarak Bumi-Matahari tersebut dinilai tidak cukup besar untuk menimbulkan penurunan suhu ekstrem. Cuaca dan iklim lebih dipengaruhi kemiringan sumbu Bumi dan pola musim, bukan semata jarak Bumi ke Matahari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga telah beberapa kali meluruskan isu serupa. Menurut BMKG, suhu udara yang lebih dingin di sejumlah wilayah Indonesia pada Juli–Agustus merupakan hal yang wajar pada musim kemarau. Salah satu faktor utamanya adalah monsun dingin Australia, yakni aliran angin dingin dari Australia menuju Asia yang melintasi Indonesia.
BMKG menilai pengaruh aphelion terhadap suhu sangat kecil. Intensitas radiasi Matahari disebut hanya berkurang sekitar 6–7% dan dampaknya terhadap cuaca harian minim. BMKG juga menegaskan tidak ada kaitan aphelion dengan penyakit musiman seperti flu atau menggigil.
Prakirawan Cuaca Senior BMKG, Soenardi, menjelaskan bahwa secara saintifik aphelion bukan parameter yang memengaruhi suhu di Indonesia. Ia menyebut kebetulan waktu terjadinya aphelion berdekatan dengan periode monsun timur atau monsun Australia yang berdampak pada sebagian wilayah, termasuk Jawa.
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika BRIN, Thomas Jamaluddin, menyampaikan hal senada. Ia menegaskan kondisi dingin pada musim kemarau bukan disebabkan jarak Bumi yang lebih jauh dari Matahari, melainkan pola musim. Thomas juga menyoroti cepatnya penyebaran informasi keliru di media sosial, termasuk narasi yang berulang dari tahun ke tahun.
Isu aphelion sebagai pemicu “udara dingin ekstrem” dan “penyakit akibat udara dingin” memang bukan kali pertama muncul. Salah satu konten di TikTok, misalnya, menyebut jarak Bumi menjadi 152 juta kilometer dari 90 juta kilometer dan mengaitkannya dengan meningkatnya risiko penyakit. Klaim tersebut dinilai tidak akurat. Pada 2023, BMKG dan Kementerian Komunikasi dan Informatika—kini Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi)—juga pernah meluruskan hoaks serupa yang beredar melalui pesan berantai.
Misinformasi terkait aphelion tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah lembaga pemeriksa fakta internasional seperti Newschecker, AFP Fact Check, dan Africa Check juga menemukan narasi serupa di berbagai negara. Sejauh ini, berbagai penjelasan ilmiah dan keterangan ahli menyimpulkan aphelion tidak berdampak pada kesehatan manusia maupun menyebabkan perubahan suhu ekstrem.
Masyarakat diimbau lebih kritis saat menerima informasi, terutama yang berasal dari akun atau situs dengan kredibilitas meragukan. Memeriksa ulang tanggal, konteks, serta rujukan ilmiah dapat membantu mencegah kesimpangsiuran informasi yang berulang setiap tahun.

