Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menyampaikan pidato pada Minggu (24/8) dalam peringatan syahadah Imam Ali bin Musa al-Ridha. Dalam pidato tersebut, Khamenei menilai tekanan Barat terhadap Iran telah bergeser dari opsi militer ke upaya menciptakan perpecahan di dalam negeri, sembari menegaskan pentingnya persatuan nasional dan dukungan terhadap apa yang ia sebut sebagai poros perlawanan di kawasan.
Khamenei mengatakan pihak-pihak yang ia sebut sebagai “musuh-musuh Iran” telah menyadari bahwa Iran tidak dapat ditundukkan melalui perang. Ia menyatakan, “Musuh-musuh Iran telah memahami dari sikap kuat bangsa, pejabat, dan angkatan bersenjata, serta kekalahan telak mereka dalam serangan militer, bahwa bangsa Iran tidak dapat ditundukkan melalui perang. Karena itu, mereka kini mengejar tujuan ini dengan menciptakan perpecahan di negara ini.”
Menurut Khamenei, perubahan pendekatan itu tercermin dalam penggunaan strategi non-militer seperti operasi psikologis, infiltrasi budaya, dan polarisasi sosial. Ia menempatkan persatuan internal sebagai faktor kunci dalam menghadapi tekanan semacam itu.
Dalam bagian lain pidatonya, Khamenei mempertanyakan alasan permusuhan Amerika Serikat terhadap Iran selama 45 tahun terakhir. Ia menyampaikan pertanyaan, “Apa sebenarnya alasan permusuhan berkelanjutan dari semua pemerintah Amerika terhadap Iran dalam 45 tahun terakhir?” Ia kemudian menyebut jawabannya: “Mereka berkata, ‘Kami ingin Iran mendengarkan kami.’ Dengan kata lain, mereka ingin bangsa Iran dan sistem Republik Islam tunduk pada perintah Amerika.”
Khamenei juga menyinggung apa yang ia sebut sebagai keyakinan keliru pihak luar mengenai kemungkinan runtuhnya Republik Islam. Ia menyebutnya sebagai “delusi” dan mengatakan, “Mereka begitu yakin dengan tujuan konyol mereka sehingga sehari setelah dimulainya perang, agen-agen bayaran Amerika di Eropa sudah membicarakan pemerintahan setelah Republik Islam.”
Ia menegaskan bahwa ketahanan Iran, menurut pandangannya, bertumpu pada hubungan antara rakyat, sistem, angkatan bersenjata, dan pemerintah. “Bangsa ini berdiri di samping sistem, Angkatan Bersenjata, dan pemerintah, dan memberi musuh pukulan keras di mulut,” ujarnya.
Terkait Israel, Khamenei menyebut “rezim Zionis” sebagai entitas yang terisolasi. Ia mengatakan, “Rezim Zionis adalah pemerintahan paling dibenci di dunia; bahkan pemerintah Barat yang selalu mendukungnya kini terpaksa mengutuknya, meskipun hanya secara verbal dan tidak berguna.” Ia juga menyerukan langkah untuk menghambat bantuan terhadap Israel, “Kita harus menutup jalan untuk membantu rezim Zionis dari semua sisi, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yaman yang pemberani.”
Dalam pidato itu, Khamenei menekankan pentingnya menjaga persatuan. “Persatuan suci, perisai baja hati rakyat, tidak boleh ternoda. Menjaganya adalah tugas mereka yang berbicara, menulis, dan meneliti; juga para pejabat dari tiga cabang pemerintahan,” katanya.
Di bagian penutup, ia menyampaikan harapan jangka panjang terkait masa depan kawasan. “Kami berharap kepada Allah SWT, dengan memberkati gerakan bangsa Iran dan seluruh pejuang kebenaran di dunia, akan mencabut kanker yang mematikan ini dari kawasan,” ujar Khamenei.
Pidato tersebut dipublikasikan melalui situs Khamenei.ir.

