Pengunduran diri H. Arisal Aziz yang akrab disapa Josal dari jabatan Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sumatera Barat memantik diskusi luas di ruang publik. Keputusan itu datang di tengah proses konsolidasi partai dan memunculkan berbagai spekulasi, baik di kalangan kader maupun masyarakat.
Hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai faktor yang melatarbelakangi pengunduran diri tersebut. Kondisi itu membuat publik mempertanyakan apakah langkah Josal murni bagian dari dinamika internal partai atau dipengaruhi faktor lain.
Perhatian terhadap keputusan ini juga menguat karena dalam beberapa tahun terakhir Josal dikenal sebagai figur politik yang popular di Sumatera Barat. Meski tergolong pendatang baru dalam politik praktis, ia dinilai membangun kedekatan dengan masyarakat melalui sejumlah program sosial, seperti layanan ambulans gratis, bantuan penyelenggaraan jenazah, kegiatan kemanusiaan melalui Yayasan Arisal Aziz Foundation, pendampingan hukum melalui LBH Josal Bantu Rakyat, serta program bantuan beras yang disebut mencapai ratusan ton sepanjang tahun ini.
Fenomena tersebut membuat sebagian kalangan memandang Josal sebagai salah satu figur potensial dalam peta politik Sumatera Barat. Namun, meningkatnya popularitas itu justru beriringan dengan munculnya tanda tanya baru setelah ia mundur dari pucuk pimpinan PAN Sumbar.
Pengamat politik Universitas Andalas, Asrinaldi, menilai keputusan Arisal Aziz meninggalkan kursi Ketua DPW PAN Sumbar berpotensi berdampak pada kekuatan internal partai. Menurutnya, Arisal Aziz selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki kontribusi elektoral bagi PAN di Sumatera Barat.
“Arisal Aziz selama ini dikenal sebagai vote getter. Suara yang diperolehnya turut memberikan kontribusi terhadap kursi PAN di DPRD. Kalau dia tidak lagi menjadi pengurus, tentu ada dampaknya bagi partai,” kata Asrinaldi.
Pada Pemilu Legislatif 2024, Arisal Aziz meraih 107.117 suara dan terpilih sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sumatera Barat II.
Asrinaldi menilai alasan pengunduran diri yang dikaitkan dengan minimnya dukungan untuk membangun kekompakan organisasi merupakan hal yang lazim dalam dinamika partai politik. “Kalau orang-orang di tingkat DPD tidak mendukung, tentu sulit memaksimalkan fungsi kepemimpinan. Akibatnya kerja-kerja politik partai juga tidak akan optimal,” ujarnya.
Meski begitu, ia menegaskan pengunduran diri dari jabatan ketua tidak otomatis berarti keluar dari partai. “Menjadi pengurus itu jabatan tambahan dalam partai. Kalau tidak jadi pengurus, bukan berarti keluar dari partai. Selama masih menjadi anggota, tidak ada masalah,” katanya.
Namun, Asrinaldi mengingatkan bahwa ikatan emosional antara tokoh dan partai menjadi faktor penting dalam menjaga soliditas organisasi. “Kalau ikatan emosionalnya berkurang, tentu ada kemungkinan-kemungkinan politik yang bisa terjadi. Itu yang perlu menjadi perhatian PAN ke depan,” tuturnya.
Di sisi lain, perhatian publik juga tertuju pada pergantian kepengurusan yang berlangsung relatif cepat setelah surat pengunduran diri Josal mencuat ke publik. Sebelumnya, publik mencermati bahwa hampir satu tahun setelah ditunjuk memimpin DPW PAN Sumbar, proses pelantikan Josal belum juga terlaksana. Kepastian struktur kepengurusan DPD di sejumlah daerah juga dinilai berjalan lambat.
Namun setelah pengunduran dirinya menjadi perbincangan, proses pelantikan kepengurusan baru disebut bergerak cepat. Situasi ini memunculkan beragam interpretasi di tengah masyarakat, mulai dari penilaian bahwa hal tersebut merupakan mekanisme organisasi yang lazim hingga dugaan terkait dinamika kekuasaan yang lebih luas. Meski demikian, tidak ada fakta maupun pernyataan resmi yang membuktikan adanya intervensi eksternal, sehingga berbagai dugaan itu masih berada dalam ranah spekulasi publik.
Pengamat politik dan sosial kemasyarakatan, Yobana Samial, menyatakan menyayangkan pengunduran diri Josal. Ia menyebut keputusan itu menjadi pembicaraan hangat, terutama di kalangan masyarakat Piaman yang mengikuti kiprah politik Arisal Aziz.
“Kita cukup menyayangkan sekali dengan mundurnya urang Piaman sebagai Ketua DPW PAN Sumbar. Jadi mundurnya Arisal Aziz menjadi sebuah diskusi hangat bagi masyarakat Piaman khususnya dan Sumbar pada umumnya,” kata Yobana.
Yobana menyebut informasi yang berkembang mengindikasikan adanya ketidakpuasan terkait usulan struktur kepengurusan DPD PAN kabupaten dan kota yang tidak seluruhnya terakomodasi. Ia menilai kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kekuatan internal partai, meski Arisal Aziz tetap menjalankan tugasnya sebagai anggota DPR RI. “Mundurnya tokoh yang dikenal dermawan ini berpotensi memengaruhi kekuatan internal partai, meski ia tetap berkomitmen sebagai Anggota DPR RI,” ujarnya.
Pandangan lain disampaikan mantan Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat periode 2004–2009, Masful. Ia menilai dinamika internal partai merupakan hal biasa selama berjalan sesuai mekanisme organisasi dan ketentuan AD/ART.
“Saya cukup menyayangkan sikap bijak yang diambil oleh Arisal Aziz itu, karena untuk mendapatkan posisi sebagai ketua partai di Sumbar mempunyai proses yang cukup panjang. Apalagi orang orang yang bercokol di PAN, banyak dari kalangan Pengusaha, Orang Akademisi, yang mempunyai intelektual tinggi,” kata Masful.
Masful menekankan pentingnya demokrasi internal yang sehat agar konflik dapat dikelola secara terbuka dan konstruktif. “Seharusnya H. Josal, hendaknya mampu dalam memimpin partai dengan menjalankan demokrasi internal dan resolusi konflik yang baik agar kebijakan strategis diputuskan melalui musyawarah yang demokratis, melibatkan struktur dari tingkat pusat hingga daerah,” ujarnya.
Ia juga menilai kekuatan partai tidak semata ditentukan oleh sumber daya finansial, melainkan kemampuan membangun loyalitas kader dan kedekatan emosional dengan masyarakat. “Strategi berbasis kedekatan emosional dan rekrutmen sukarelawan mampu menggantikan kekuatan modal. Jadi tidak perlu mengandalkan uang banyak,” katanya.
Di tengah berbagai spekulasi yang berkembang, DPP PAN kemudian melantik kepengurusan baru. Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan melantik Indra Datuak Rajolelo sebagai Ketua DPW PAN Sumatera Barat dan Muhayatul sebagai sekretaris, beserta jajaran pengurus DPD PAN se-Sumatera Barat.
Pelantikan berlangsung di Kota Padang pada Minggu, 14 Juni 2026, dan disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat struktur organisasi serta mempercepat konsolidasi partai menjelang agenda politik mendatang.
Meski kepemimpinan baru telah terbentuk, pengunduran diri Josal masih menjadi perbincangan di Sumatera Barat. Di tengah popularitasnya dan kontribusi berbagai program sosial, publik masih mempertanyakan apakah langkah tersebut semata dinamika internal partai atau menandai babak baru perjalanan politik Arisal Aziz.