Dinamika politik menjelang Musyawarah Daerah (Musda) ke-12 DPD Partai Golkar Aceh kian menghangat. Perhelatan internal partai ini tidak hanya ramai dibicarakan di kalangan kader, tetapi juga menjadi perhatian masyarakat, pengamat politik, hingga perbincangan di warung kopi.
Ketua Steering Committee (SC) Musda XII Partai Golkar Aceh, Syukri Rahmat, menilai posisi Golkar tetap strategis dalam peta politik nasional maupun lokal. Menurutnya, kekuatan Golkar tidak semata bertumpu pada usia dan sejarah partai, melainkan pada sistem kaderisasi serta konsistensi menjalankan mekanisme organisasi.
Syukri mengatakan, Musda Golkar selama ini kerap memunculkan dinamika yang terasa hingga ke tingkat DPD II kabupaten/kota. Ia menyebut pengalaman mengikuti Musda sejak 2009 memperlihatkan bahwa forum tersebut selalu menjadi ruang pendidikan politik yang ikut disaksikan publik.
Ia menegaskan, Musda bukan hanya ajang memilih Ketua DPD I, tetapi juga forum strategis untuk merumuskan arah politik serta program kerja Golkar Aceh lima tahun ke depan. Dalam mekanisme Musda, kata Syukri, pembahasan program kerja didahulukan sebelum pemilihan ketua, termasuk penetapan target legislatif dan eksekutif, penguatan organisasi, pengembangan kader, serta strategi pengaruh partai di pemerintahan.
Menjelang Musda, sejumlah nama disebut mengemuka sebagai calon ketua, di antaranya Teuku Raja Keumangan (TRK), Muklis Takabea, Ampon Bang, Lukman CM, hingga Andi Sunulingga. Syukri memandang banyaknya nama yang beredar sebagai indikasi bahwa Golkar masih diminati dan diperhitungkan. Ia juga menyinggung adanya pembahasan mengenai figur dari luar partai, seperti Bustami Hamzah, yang disebut-sebut ingin mencalonkan diri.
Syukri menyebut terdapat 29 pemilik suara sah dalam Musda, yang terdiri dari DPP, Dewan Pertimbangan Provinsi, pengurus demisioner, ormas pendiri dan yang didirikan, serta 23 DPD kabupaten/kota. Sebagai ketua SC, ia menegaskan tidak akan mencampuri preferensi dukungan, melainkan fokus menyiapkan materi Musda agar substantif dan berkualitas.
Ia turut menanggapi kritik sebagian kader terhadap kepemimpinan DPD I dalam 10 tahun terakhir. Syukri menyayangkan apabila kritik disampaikan melalui media, bukan lewat mekanisme resmi partai seperti Dewan Pertimbangan atau Mahkamah Partai. Menurutnya, Golkar terbuka terhadap kritik, namun harus disalurkan melalui jalur yang tersedia.
Syukri juga menekankan bahwa loyalitas kader, dalam pandangannya, semestinya diberikan kepada institusi partai, bukan kepada individu. Ia menyatakan siap loyal kepada siapapun ketua yang terpilih karena jabatan tersebut bersifat institusional.
Terkait anggapan bahwa Golkar mengalami krisis kader karena minimnya kader muda yang tampil, Syukri menilai tafsir itu kurang tepat. Ia menyebut banyak kader yang mampu berkontribusi tanpa harus maju sebagai ketua, serta mengingatkan agar dinamika kompetisi tidak dibangun di atas fitnah dan intrik.
Soal peluang figur-figur yang disebut menjelang Musda, termasuk Andi Sunulingga, Syukri menilai semua kader memiliki kesempatan yang sama hingga Musda dilaksanakan. Ia mengatakan, pihak yang berasal dari luar struktur pun tetap dapat mencalonkan diri sepanjang memenuhi syarat, termasuk melalui diskresi Ketua Umum, namun keputusan akhir tetap berada di forum Musda.
Syukri menutup pernyataannya dengan menekankan Musda XII sebagai momentum penyegaran politik Golkar Aceh di tengah dinamika lokal dan dominasi partai-partai lokal.

