Surabaya — Institut Teknologi PLN (ITPLN) bersama PLN melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) menggelar Program Rekayasa Teknologi Energi Terbarukan untuk sejumlah sekolah terpilih di Indonesia. SMAN 5 Surabaya ditunjuk sebagai sekolah pertama yang menjadi lokasi pelaksanaan program pada tahun 2026.
Program berdurasi dua bulan ini berfokus pada pendampingan siswa dan guru untuk membangun proyek energi terbarukan skala kecil, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Usaha ITPLN, Dr. Ir. M. Ahsin Sidqi, M.M., IPU., ASEAN Eng., QRGP, menekankan bahwa program tersebut tidak hanya berorientasi pada edukasi teknologi, tetapi juga membangun kesadaran iklim sejak dini.
“Selama dua bulan ke depan, kami akan mendampingi adik-adik dan guru untuk membuat proyek-proyek kecil, termasuk bagaimana membangun PLTS. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi soal masa depan bumi,” ujar Ahsin saat kegiatan di SMAN 5 Surabaya, Jumat, 23 Januari 2026.
Ahsin menyebut krisis iklim global menjadi latar utama program ini. Menurutnya, pemanasan global, banjir, hingga munculnya penyakit baru merupakan dampak nyata dari penggunaan energi fosil secara masif. “Bumi makin panas, banjir makin sering, penyakit makin aneh. Itu akibat perubahan iklim karena energi fosil. Generasi muda harus disiapkan dengan teknologi energi bersih,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Ahsin juga mengajak lulusan SMAN 5 Surabaya untuk melanjutkan studi di ITPLN agar dapat berperan dalam pengembangan energi bersih di Indonesia. Ia menyampaikan ITPLN berencana membuka cabang atau program studi di luar kampus utama (PSDKU) di Jawa Timur, dengan perkuliahan yang dimulai tahun ini di PLN Udiklat Pandaan.
Direktur Training Center ITPLN, Suharto, menjelaskan bahwa materi program difokuskan pada penerapan PLTS dan pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy (WTE). Pelatihan dirancang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga praktik langsung menggunakan peralatan yang disiapkan ITPLN.
“Yang diajarkan ada dua, yaitu waste to energy dan PLTS. Untuk PLTS, peserta akan diajari sistemnya, cara mengoperasikan, mengecek, hingga memperbaikinya,” kata Suharto.
Ia menambahkan, pelatihan PLTS mencakup simulasi pemasangan panel surya yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun rumah. ITPLN juga akan menyerahkan peralatan pendukung agar dapat digunakan dalam pembelajaran lanjutan. “Peralatannya akan kami bawa dan diserahkan ke sekolah. Jadi pada kelas berikutnya, siswa bisa langsung menggunakan peralatan yang diberikan,” ujarnya.
Selain itu, konsep WTE yang diajarkan mencakup pengelolaan sampah, proses pengolahan, hingga pemanfaatannya sebagai sumber energi terbarukan. “Di sekolah, siswa diajarkan bagaimana mengolah sampah, prosesnya seperti apa, dan hasil apa yang bisa dimanfaatkan. Ini bukan hanya membantu energi terbarukan, tetapi juga pengurangan sampah,” tutur Suharto.
Kepala Sekolah SMAN 5 Surabaya, Sukirin Wikanto, S.Pd., M.Pd., menyambut positif kolaborasi tersebut. Ia menyebut sekolah sebenarnya telah memiliki fasilitas PLTS, namun pemanfaatannya belum optimal. “Di area parkir utara sebenarnya sudah ada atap dengan PLTS. Tapi efektivitas dan kemanfaatannya belum pernah dikaji secara serius. Dengan pendampingan dari ITPLN dan praktisi PLN, ini jadi momentum pembelajaran nyata bagi siswa dan guru,” kata Sukirin.
Menurut Sukirin, program ini tidak hanya terkait infrastruktur energi, tetapi juga membuka wawasan karier bagi siswa. “Anak-anak yang suka teknik akan mendapatkan ilmu dasar tentang PLTS, tentang dunia kelistrikan, dan peluang kerja di sektor energi. Ini bisa jadi bagian dari penemuan passion mereka,” ujarnya.
Ia berharap kerja sama tersebut dapat berlanjut setelah program dua bulan berakhir. “Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut. PLTS yang ada akan dikaji ulang agar manfaatnya benar-benar dirasakan sekolah. Semoga anak-anak terinspirasi dan punya masa depan di sektor energi,” pungkasnya.

