Indonesia Nyatakan Kesiapan Berpartisipasi dalam Proyek Energi Bangladesh

Indonesia Nyatakan Kesiapan Berpartisipasi dalam Proyek Energi Bangladesh

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Bangladesh dan Nepal, Listyowati, menyatakan Indonesia siap mendukung dan berpartisipasi dalam proyek-proyek energi di Bangladesh. Pernyataan itu disampaikan seusai ia menyerahkan Surat Kepercayaan (Letters of Credence) kepada Presiden Republik Rakyat Bangladesh Mohammed Shabuddin di Dhaka, Kamis (22/1/2026).

Listyowati menekankan pentingnya kerja sama Indonesia dan Bangladesh untuk mendorong solusi konkret dalam kerangka Indonesia–Bangladesh Preferential Trade Agreement (PTA). Menurutnya, kerja sama tersebut ditujukan untuk meningkatkan akses pasar, memperkuat keseimbangan perdagangan, serta mendorong diversifikasi produk unggulan kedua negara yang bernilai tambah.

“Indonesia siap untuk mendukung dan berpartisipasi dalam proyek-proyek energi di Bangladesh, termasuk melalui peluang kerja sama Government-to-Government (G-to-G),” kata Listyowati dalam pernyataan, Jumat (23/1/2026).

Ia menjelaskan, selama ini penjajakan kerja sama dilakukan melalui skema BUMN ke BUMN, business-to-business, serta capacity building, sejalan dengan Nota Kesepahaman Kerja Sama Energi Indonesia–Bangladesh. Komitmen tersebut, menurutnya, melanjutkan hasil High Level Economic Delegation (HLED) Indonesia ke Bangladesh pada Mei 2025 yang dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha C. Nasir.

Listyowati juga menyebut kunjungan itu menegaskan peran Indonesia sebagai mitra utama ketahanan energi Bangladesh, termasuk sebagai pemasok utama batu bara. Dalam beberapa tahun terakhir, ia menilai hubungan ekonomi bilateral Indonesia–Bangladesh turut menunjukkan penguatan.

Penguatan itu, antara lain, ditandai dengan rencana pembukaan jaringan ritel Alfamart Indonesia di Bangladesh serta keberlanjutan investasi PT Japfa Comfeed Indonesia di sektor peternakan. Listyowati menyatakan kehadiran investasi Indonesia tersebut menjadi wujud kontribusi dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Dari sisi pasar, Bangladesh disebut memiliki sekitar 175 juta penduduk dengan kelas menengah yang terus tumbuh dan diperkirakan mencapai 20 persen atau sekitar 40 juta jiwa pada 2025. Listyowati menambahkan, dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dan stabil—rata-rata di atas 6,8 persen sejak 2011—Bangladesh dinilai menjadi mitra strategis bagi Indonesia dan membuka peluang peningkatan perdagangan serta kerja sama ekonomi.

Selain ekonomi, Listyowati menyoroti pentingnya penguatan kemitraan di bidang lain, termasuk keamanan dan pertahanan. Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyampaikan Indonesia akan mengemban amanah sebagai Ketua Developing Eight (D-8) dan berharap Bangladesh berpartisipasi aktif dalam agenda serta inisiatif D-8, khususnya di bidang ekonomi halal, ekonomi biru, transformasi digital, dan pembangunan berkelanjutan.

Indonesia dan Bangladesh, lanjutnya, juga terus memperkuat kerja sama dalam berbagai organisasi dan forum internasional di kawasan. Indonesia turut mendorong penguatan kerja sama antarmasyarakat (people-to-people), termasuk melalui pemberian beasiswa, sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan dan pembangunan sumber daya manusia kedua negara.

Presiden Bangladesh Mohammed Shabuddin menyampaikan apresiasi atas komitmen Indonesia untuk meningkatkan kerja sama bilateral di berbagai bidang, termasuk ekonomi, pertahanan, dan penanggulangan terorisme. Ia juga mendorong penguatan people-to-people contact serta konektivitas antara kedua negara.

Saat ini, jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) di Bangladesh tercatat sekitar 555 orang, dengan sebagian besar merupakan ibu rumah tangga yang menikah dengan warga negara setempat. Indonesia dan Bangladesh telah menjalin hubungan diplomatik sejak 1972, dan tahun depan akan menandai peringatan 55 tahun hubungan diplomatik kedua negara.