Indef: Kebakaran Depot Minyak di Rusia Berpotensi Tekan Indonesia, Cadangan Energi Perlu Diperkuat

Indef: Kebakaran Depot Minyak di Rusia Berpotensi Tekan Indonesia, Cadangan Energi Perlu Diperkuat

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan pemerintah perlu memperkuat cadangan energi nasional di tengah konflik yang memicu terbakarnya depot minyak di Kota Penza, Rusia, akibat serangan drone oleh Ukraina.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menilai insiden tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dalam jangka pendek. Kondisi itu, menurutnya, dapat berujung pada meningkatnya biaya impor energi Indonesia. “Dari sisi kebijakan, Pemerintah Indonesia perlu langkah antisipatif yang terukur,” kata Rizal saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (24/1/2026).

Rizal menjelaskan, pada sejumlah insiden serupa sepanjang 2024–2025, harga minyak Brent tercatat naik sekitar 1–3 persen secara harian, bergerak dari sekitar 80 dolar AS per barel ke kisaran 82–85 dolar AS per barel.

Ia menambahkan, kenaikan tersebut terutama didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan dan eskalasi konflik, bukan karena hilangnya volume produksi global secara signifikan. Rizal menyebut produksi minyak dunia masih berada di atas 102 juta barel per hari, dengan kapasitas cadangan OPEC+ yang dinilai relatif memadai.

Bagi Indonesia, ketergantungan impor masih tinggi karena sekitar 60–65 persen kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional dipenuhi dari impor. Rizal memperkirakan setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dapat menambah beban impor migas hingga 300–400 juta dolar AS per tahun.

Selain itu, kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi karena komponen transportasi dan energi menyumbang sekitar 15–20 persen dalam keranjang inflasi nasional. Meski demikian, Rizal menilai dampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5 persen masih dapat dikelola selama lonjakan harga minyak bersifat sementara.

Untuk langkah antisipasi, ia menyoroti cadangan operasional BBM Indonesia yang saat ini berkisar 20–25 hari konsumsi. Menurutnya, angka tersebut relatif terbatas untuk meredam tekanan jika gejolak berlangsung lebih lama.

Dari sisi fiskal, Rizal menilai subsidi dan kompensasi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih sensitif terhadap pergerakan harga minyak. Ia menyebut setiap kenaikan minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 10 dolar AS per barel dapat menambah beban anggaran hingga Rp 50–60 triliun.