Hilirisasi Perkuat Kontribusi Sawit bagi Ekonomi, Ekspor, dan Program Biodiesel

Hilirisasi Perkuat Kontribusi Sawit bagi Ekonomi, Ekspor, dan Program Biodiesel

Industri kelapa sawit disebut masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Pada 2023, produksi minyak sawit Indonesia tercatat mencapai 54,84 juta ton, dengan nilai ekspor sekitar 30,32 miliar dolar AS atau setara Rp479 triliun.

Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri, menyampaikan bahwa ekspor sawit sempat mencetak rekor tertinggi sekitar 39 miliar dolar AS pada 2022, sebelum kembali ke kisaran 28 miliar dolar AS pada 2024. Menurutnya, arus devisa dari sawit memiliki peran penting dalam menjaga surplus neraca perdagangan nonmigas.

Selain kontribusi devisa, Boga menyebut sektor sawit juga menopang pembiayaan program strategis nasional, termasuk subsidi biodiesel, serta menggerakkan ekonomi kerakyatan. Ia memperkirakan lebih dari 16 juta penduduk Indonesia menggantungkan hidup pada sektor ini, mulai dari petani kecil hingga pekerja industri.

Di tingkat global, Boga mengacu pada data USDA yang menunjukkan Indonesia menyumbang sekitar 58% produksi minyak sawit dunia. Bersama Malaysia, Indonesia disebut menguasai sekitar 80% ekspor global. Pada 2023, pangsa ekspor Indonesia mencapai sekitar 52,5% nilai ekspor sawit dunia, meski turun ke kisaran 48% pada 2024.

Menurut Boga, dominasi Indonesia tidak hanya terkait volume, tetapi juga daya tawar strategis dalam rantai pasok minyak nabati global. Ia menambahkan produktivitas sawit dinilai lebih tinggi dibanding tanaman minyak nabati lain, dengan hasil minyak per hektare disebut 5–10 kali lebih banyak dibandingkan kedelai atau bunga matahari. Efisiensi lahan ini, kata dia, menjadikan sawit relatif hemat lahan dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia.

Boga juga menilai kontribusi sawit semakin menguat melalui agenda hilirisasi. Saat ini, sekitar 74% ekspor sawit Indonesia disebut telah berbentuk produk olahan bernilai tambah, seperti olein, minyak goreng, biodiesel, oleokimia, hingga bahan baku kosmetik. Hingga 2023, pemerintah mencatat setidaknya 193 jenis produk turunan sawit telah dihasilkan industri nasional. Transformasi tersebut dinilai meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat struktur industri manufaktur berbasis perkebunan, serta menciptakan lapangan kerja.

Terkait hilirisasi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah akan meniru keberhasilan program biodiesel yang dimulai pada 2015 untuk menciptakan keseimbangan dan mengurangi impor. Ia menyebut program biodiesel yang awalnya menggunakan campuran 10% dari sawit (B10) kini berkembang menjadi B40, dan pemerintah tengah mempersiapkan implementasi B50 pada 2026.

Bahlil menyatakan kebijakan tersebut tidak hanya menekan impor solar, tetapi juga berdampak pada kenaikan harga tandan buah segar (TBS) petani serta mendorong harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar dunia. “Kita belajar daripada biodiesel. Biodiesel itu di 2015 baru dipake 10%. Bertahap, bertahap sekarang menjadi B40 dan (menuju) B50, (dampaknya) harga petani naik, harga CPO dunia naik, impor solar kita berkurang,” ujar Bahlil.