Harga CPO di Bursa Malaysia Turun 0,71% pada 23 Januari 2026, Tertekan Profit Taking dan Penguatan Ringgit

Harga CPO di Bursa Malaysia Turun 0,71% pada 23 Januari 2026, Tertekan Profit Taking dan Penguatan Ringgit

Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) melemah pada perdagangan Jumat (23/1/2026). Penurunan terjadi seiring aksi ambil untung (profit taking) menjelang akhir pekan, di tengah penguatan tajam nilai tukar Ringgit Malaysia.

Berdasarkan laporan Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman April 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun MYR 30 atau 0,71% menjadi MYR 4.167 per metrik ton pada jeda perdagangan siang. Meski terkoreksi hari ini, secara mingguan harga CPO masih berada di jalur penguatan sekitar 2,6% dan berpotensi mencatat kenaikan untuk tiga pekan berturut-turut.

Seorang trader di Kuala Lumpur menilai koreksi tersebut tergolong wajar setelah reli panjang, karena investor cenderung merealisasikan keuntungan. Pada saat yang sama, Ringgit menguat 0,94% terhadap dolar AS, sehingga CPO menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing dan berpotensi menekan permintaan.

Menurut David Ng, trader dari Iceberg X Sdn Bhd di Kuala Lumpur, tekanan jual tetap ada, namun penurunan harga terbatas oleh ekspektasi pengetatan pasokan. Ia menyebut produksi Malaysia pada Januari diproyeksikan turun 15% hingga 17% akibat faktor musiman.

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan kebijakan biodiesel di Indonesia. Ketidakpastian terkait implementasi mandatori B50—yang disebut masih tertahan pada level B40 karena kendala teknis dan pendanaan—turut membayangi pergerakan harga di pasar global.

Di pasar minyak nabati lainnya, pergerakan harga terpantau bervariasi. Kontrak minyak kedelai teraktif di Bursa Dalian naik tipis 0,07%, sementara kontrak minyak sawitnya turun 0,04%. Adapun harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) turun 0,07%.

Secara umum, harga CPO kerap mengikuti tren minyak nabati pesaing karena bersaing memperebutkan pangsa pasar global. Tekanan tambahan juga datang dari sektor energi, setelah International Energy Agency (IEA) memproyeksikan surplus pasokan minyak mentah global pada kuartal I-2026, yang dapat menekan prospek permintaan biodiesel ke depan.