Yogyakarta—Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menggelar seminar nasional untuk membahas berbagai aspek industri kelapa sawit, mulai dari ekonomi, sosial, hingga lingkungan, pada Kamis (22/1/2026).
Seminar diselenggarakan secara hibrid di Ruang Seminar Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta dan disiarkan melalui kanal digital agar dapat diikuti peserta dari beragam latar belakang profesi di berbagai daerah.
Menurut informasi yang dimuat Media Center Sleman pada Sabtu (24/1/2026), kegiatan ini diikuti 543 peserta. Dalam paparan yang disampaikan, industri sawit disebut sebagai penyumbang devisa terbesar kedua bagi Indonesia serta menyerap total 16,5 juta tenaga kerja.
Forum tersebut juga menyoroti stigma negatif yang kerap diarahkan kepada industri sawit, terutama terkait isu kerusakan alam. Sejumlah tudingan yang dibahas antara lain soal degradasi hutan dan anggapan bahwa perkebunan sawit menjadi penyebab banjir di beberapa wilayah sentra produksi.
Pertemuan lintas sektor ini bertujuan menyelaraskan pandangan agar pemanfaatan kelapa sawit dapat dilihat secara lebih utuh dari perspektif keberlanjutan, sekaligus mendukung pembangunan nasional yang menyejahterakan masyarakat.
Beberapa topik utama yang dibahas dalam seminar meliputi analisis terkait tudingan sawit sebagai penyebab banjir di berbagai daerah, peran infrastruktur perkebunan dalam mendorong kemajuan wilayah terpencil, kontribusi produk turunan sawit terhadap pertumbuhan ekonomi global, serta strategi perlindungan lingkungan tanpa mengorbankan kesejahteraan petani rakyat.
Dekan Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta menyampaikan bahwa masyarakat sebenarnya bersentuhan dengan produk berbasis kelapa sawit hampir setiap hari, meski sering tidak menyadari tingkat ketergantungan terhadap komoditas tersebut.
Dalam diskusi, sinergi antara perguruan tinggi dan asosiasi pengusaha disebut penting untuk merespons kampanye negatif melalui pendekatan ilmiah yang objektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Seminar ini juga menghadirkan narasumber di bidang pertanian dan ekonomi untuk memperkaya perspektif menghadapi tantangan global di sektor perkebunan.
Panitia pelaksana yang didominasi mahasiswa Generasi Z turut menjadi perhatian, dengan antusiasme tinggi dalam menyiapkan agenda sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan sektor agribisnis.
Selama diskusi, sejumlah dampak positif kehadiran industri sawit yang diidentifikasi antara lain pembukaan akses transportasi di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau, penciptaan lapangan kerja langsung bagi sedikitnya lima juta jiwa, serta stabilitas pasokan bahan baku bagi industri pangan dan energi domestik.
Melalui pembahasan yang mendalam, para peserta berupaya mencari titik temu agar kepentingan ekonomi dan kelestarian alam dapat berjalan berdampingan. Forum ini juga menyepakati perlunya peningkatan edukasi publik mengenai fakta lapangan industri sawit untuk menangkal persepsi keliru yang dinilai berpotensi merugikan keberlanjutan ekonomi sektor perkebunan dalam jangka panjang.
Kemitraan antara institusi pendidikan dan pelaku usaha dinilai dapat menjadi fondasi dalam merumuskan kebijakan berbasis data dan riset untuk menjawab tantangan lingkungan global yang dihadapi saat ini.

