For HATI Bali: Tata Ruang Kintamani Rusak Parah, Aktivitas Wisata Dinilai Picu Kerusakan

For HATI Bali: Tata Ruang Kintamani Rusak Parah, Aktivitas Wisata Dinilai Picu Kerusakan

Penasehat Forum Pemerhati Pembangunan Bali (For HATI Bali), Jro Gde Sudibya, menilai kerusakan tata ruang di Kintamani, Bangli, sudah berada pada tahap parah. Ia menyebut kawasan Gunung Tampurhyang—yang dipandang sebagai lingga pemujaan Dewa Wisnu—mengalami kerusakan akibat aktivitas wisata yang tidak terkendali.

Di Denpasar, Senin (13/7), Sudibya mengatakan gunung tersebut didaki setiap hari untuk tujuan rekreasi. Menurutnya, aktivitas itu berlangsung di berbagai bagian gunung, mulai dari area bawah, tengah, hingga puncak.

Ia juga menyampaikan bahwa sebagian hutan di bagian tengah gunung disebut telah dibabat untuk pembangunan fasilitas wisata. Sudibya menyoroti kondisi kebersihan kawasan yang ia sebut tidak terperikan, sembari mengingatkan peristiwa letusan sekitar 100 tahun lalu pada 1926.

Selain itu, Sudibya menilai pengaturan ruang dalam sistem ekologi Danau Batur telah banyak dilanggar. Ia merujuk sejumlah prasasti yang memuat “uger-uger” Danau Batur, yang disebut tersimpan di Desa Batur, Kedisan, dan Buahan.

Ia menyebut kawasan di sisi kanan jalan dari Pertigaan Kedisan menuju Songan merupakan wilayah Utama Mandala yang seharusnya steril dari kegiatan ekonomi dan bisnis. Dalam Prasasti Cintamani, kata dia, kawasan tersebut ditegaskan sebagai kawasan suci sehingga memerlukan kewaspadaan serta kehati-hatian ekstra dalam pengaturan ruang dan penerbitan perizinan.

Sudibya mendorong kepatuhan terhadap tata ruang, termasuk koreksi atas pelanggaran sempadan danau dan keberadaan bangunan di kawasan hutan lindung. Ia juga menilai izin yang diterbitkan namun melanggar RTRW dan RDTR seharusnya batal demi hukum serta perlu disesuaikan dengan aturan yang berlaku.

Menurutnya, pengawasan oleh DPRD dan lembaga pengawasan terkait menjadi penting. Ia menambahkan, penegakan hukum terkait tata ruang, peruntukan ruang, serta Undang-Undang Lingkungan Hidup diperlukan untuk menegakkan etika lingkungan, terutama di tengah krisis iklim. Ia mengingatkan bencana hidrometeorologi merupakan ancaman nyata dengan risiko kerusakan lingkungan yang terus membesar.