Setiap 26 Januari, dunia memperingati International Day of Clean Energy. Selama ini, peringatan tersebut kerap dipahami sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon dan memperlambat perubahan iklim. Namun, berbagai kajian ilmiah menunjukkan energi bersih juga memiliki kaitan langsung dengan kesehatan masyarakat.
Energi bersih—seperti tenaga surya, angin, air (hidro), panas bumi, dan bioenergi—disebut sebagai fondasi penting bagi kesehatan publik. Hubungan energi dan kesehatan bukan hal baru. Sejumlah peneliti telah lama menyoroti bahwa produksi dan penggunaan energi dapat memengaruhi jenis serta jumlah penyakit yang muncul di masyarakat.
Penggunaan bahan bakar fosil dan biomassa secara masif disebut terbukti menjadi salah satu penyumbang utama meningkatnya beban penyakit. Proses pembakaran batu bara, minyak bumi, dan biomassa melepaskan berbagai polutan ke udara, termasuk partikulat halus (PM2,5), nitrogen dioksida, sulfur dioksida, serta senyawa toksik lainnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan polusi udara menyebabkan kematian jutaan orang setiap tahun di seluruh dunia. WHO juga menegaskan tidak ada ambang batas aman untuk paparan partikulat halus, karena dampaknya dapat terjadi meski konsentrasi polutan relatif rendah.
Dari sudut pandang mikrobiologi, polusi udara tidak hanya memicu iritasi saluran pernapasan. Berbagai penelitian menunjukkan paparan polutan dapat merusak sel epitel saluran napas, mengganggu fungsi silia, serta menekan respons imun lokal. Kondisi tersebut membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi virus maupun bakteri patogen.
Sejumlah studi epidemiologi juga menemukan hubungan konsisten antara peningkatan polusi udara dan lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan, pneumonia, serta meningkatnya jumlah rawat inap dan kematian akibat penyakit paru dan kardiovaskular. Dampaknya tidak selalu jangka panjang, tetapi dapat muncul dalam waktu relatif singkat ketika kualitas udara memburuk.
Temuan di bidang mikrobiologi turut menjelaskan mekanisme lain yang terjadi. Udara kotor diketahui dapat mengubah komposisi mikrobiota saluran pernapasan. Dalam kondisi udara bersih, mikrobiota cenderung didominasi bakteri komensal seperti Corynebacterium dan Dolosigranulum yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem mikroba.
Namun, paparan polusi dapat memicu disbiosis, yakni menurunnya mikroba alami (flora normal) dan meningkatnya bakteri oportunistik seperti Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae yang berkaitan erat dengan infeksi pernapasan.
Di sisi lain, sejumlah kajian ilmiah menyebut penggunaan energi bersih dapat meningkatkan taraf kesehatan secara nyata. Pemanfaatan energi bersih, terutama di tingkat rumah tangga, dinilai dapat menurunkan beban penyakit pernapasan dan biaya kesehatan. Dalam banyak kasus, manfaat tersebut disebut dapat menutupi biaya tambahan yang muncul dalam proses transisi energi.
Selain menjadi pihak yang terdampak polusi, mikroba juga berperan dalam produksi energi bersih. Pada teknologi biogas, bakteri metanogen seperti Methanobacterium dan Methanosarcina membantu menguraikan limbah organik menjadi gas metana yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan. Proses ini dinilai memberi manfaat ganda, yakni menghasilkan energi sekaligus memperbaiki sanitasi dan kualitas lingkungan.
Indonesia disebut memiliki potensi besar dalam pengembangan energi bersih, baik dari matahari, air, panas bumi, maupun bioenergi berbasis mikroba. Dengan sumber daya alam yang melimpah, transisi energi bersih dipandang perlu dilihat sebagai investasi kesehatan jangka panjang, bukan semata kewajiban lingkungan.
Meski demikian, diskursus energi dan kesehatan masih kerap berjalan terpisah. Energi sering dibahas dalam kerangka pasokan dan biaya, sementara kesehatan dipersempit pada layanan medis. Padahal, banyak penyakit dapat dicegah melalui lingkungan yang lebih bersih dan sistem energi yang lebih sehat.
Peringatan International Day of Clean Energy pun dinilai menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa energi bersih bukan hanya solusi iklim, tetapi juga bagian dari investasi kesehatan masyarakat di masa depan.

