Ekspor Vietnam Menguat, tetapi Pasar Utama Kian Menuntut Transparansi dan Kepatuhan Rantai Pasok

Ekspor Vietnam Menguat, tetapi Pasar Utama Kian Menuntut Transparansi dan Kepatuhan Rantai Pasok

Nilai perdagangan luar negeri Vietnam mencatat kenaikan tajam pada paruh pertama Maret 2026. Data statistik sementara terbaru dari Departemen Bea Cukai menunjukkan total nilai impor dan ekspor pada periode tersebut mencapai US$41,23 miliar, naik 78,9% atau bertambah US$18,18 miliar.

Dari sisi ekspor, nilai pengapalan Vietnam pada paruh pertama Maret 2026 mencapai US$20,35 miliar. Angka ini meningkat 98,1% dibandingkan paruh kedua Februari 2026, setara kenaikan absolut US$10,08 miliar. Secara kumulatif hingga 15 Maret 2026, total nilai ekspor Vietnam mencapai US$96,81 miliar, naik 17,1% atau bertambah US$14,14 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Dr. Nguyen Quoc Viet, pakar kebijakan publik di Fakultas Ekonomi Universitas Nasional Vietnam (Hanoi), menilai kinerja impor dan ekspor masih menjadi titik terang dalam gambaran ekonomi Vietnam. Ia menyebut, jika dilihat dalam rentang 2017 hingga kini, perputaran impor dan ekspor Vietnam cenderung terus tumbuh, dengan pengecualian penurunan kecil pada 2023. Bahkan pada masa pandemi COVID-19 (2021–2022), ekspor dinilai tetap mempertahankan momentum pertumbuhan.

Indikator lain yang disoroti adalah meningkatnya jumlah kelompok barang ekspor yang nilai tahunannya melampaui US$1 miliar. Jika sebelumnya jumlah barang yang menembus ambang ini terbatas, kini Vietnam memiliki 36 kelompok barang yang mencapai level tersebut. Perkembangan ini mencerminkan perluasan skala sekaligus pendalaman kegiatan ekspor.

Meski demikian, sejumlah tekanan dinilai kian menguat di balik angka-angka positif tersebut. Kenaikan biaya input, standar dan hambatan perdagangan yang semakin ketat, serta gangguan rantai pasok menjadi tantangan baru bagi pertumbuhan ekspor.

Dalam Lokakarya Internasional tentang Risiko, Kepatuhan, dan Inovasi dalam Rantai Pasokan yang diselenggarakan Pusat Inovasi Nasional (NIC) bersama Jaringan Penilaian Kepatuhan Pemasok (SCAN), Wakil Direktur NIC Do Tien Thinh menekankan bahwa posisi Vietnam sebagai “mata rantai penting” dalam rantai pasok global turut diiringi tuntutan yang semakin ketat dari pasar-pasar utama.

Menurut sejumlah pemaparan dalam forum tersebut, pasar seperti Amerika Serikat dan Kanada memperketat standar keamanan, transparansi, dan keberlanjutan (ESG). Tuntutan tidak hanya menyangkut standar teknis, tetapi juga standar non-teknis, termasuk kondisi kerja, kesejahteraan sosial, dan etika produksi.

CEO SCAN Carlos E. Ochoa menyatakan ketegangan geopolitik dan perubahan iklim meningkatkan risiko dalam rantai pasok. Pada saat yang sama, pengawasan dan penegakan bea cukai yang lebih ketat mendorong tuntutan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap transparansi, ketertelusuran, dan keamanan rantai pasok.

Ia menyoroti Amerika Serikat sebagai pasar ekspor terbesar Vietnam—menyumbang hampir 30% dari total nilai ekspor—yang dinilai sangat menekankan transparansi rantai pasok. Dalam konteks ini, keamanan dan kepatuhan disebut semakin menentukan keputusan pembeli.

Do Tien Thinh juga menyampaikan pandangan bahwa jika 2025 dapat dilihat sebagai “tahun tarif”, maka 2026 berpotensi menjadi “tahun konsekuensi tarif”. Perdagangan global diproyeksikan melambat ketika hambatan perdagangan berlaku penuh. Selain itu, rantai pasok kontainer disebut terus mengalami restrukturisasi, bergeser dari rute tradisional ke wilayah baru, bersamaan dengan meningkatnya risiko terkait transportasi maritim dan faktor hukum.

Di tengah perubahan tersebut, investasi teknologi—terutama kecerdasan buatan (AI) dan teknologi hijau—dipandang sebagai salah satu pendorong untuk mengimbangi pelemahan perdagangan tradisional. Namun, forum itu juga menekankan pentingnya penguatan kemampuan internal perusahaan, dengan inovasi sebagai salah satu kunci.

Do Tien Thinh memaparkan inovasi bisnis dapat dilihat melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah outsourcing, ketika perusahaan berperan sebagai subkontraktor dan inovasi terbatas pada perbaikan proses serta optimalisasi tenaga kerja sehingga nilai tambah rendah. Tahap kedua adalah keterlibatan yang lebih dalam pada produksi, dengan fokus peningkatan teknis dan transfer teknologi; ia menyebut banyak bisnis Vietnam berada pada tahap ini, terutama di manufaktur komponen elektronik dengan partisipasi kuat investasi asing langsung (FDI). Tahap ketiga adalah penguasaan teknologi yang melahirkan terobosan inovasi dan kekayaan intelektual, sehingga produk bernilai tinggi dan terkait merek serta hak kekayaan intelektual perusahaan.

Dalam materi lain yang disampaikan, ekspor produk pertanian, kehutanan, dan perikanan Vietnam dilaporkan melampaui US$30 miliar dalam lima bulan pertama, dengan rincian: produk pertanian mencapai US$16,38 miliar (naik 6,1%), produk kehutanan US$7,65 miliar (naik 4,5%), dan produk perikanan US$4,65 miliar (naik 10,6%) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Vietnam juga disebut telah meraih sejumlah hasil positif dalam inovasi dengan menempati peringkat ke-44 dari 139 negara dalam peringkat internasional terbaru, yang dinilai menjadi fondasi untuk meningkatkan daya saing ke depan.

Selain inovasi, Ketua Dewan SCAN Jennifer Kissner menekankan perlunya perubahan pola pikir di kalangan bisnis Vietnam. Menurutnya, kepatuhan terhadap regulasi keamanan rantai pasok sebaiknya dipandang sebagai bagian dari strategi pengembangan, bukan sekadar hambatan administratif.

Ia mencontohkan pergeseran cara penilaian oleh pasar pengimpor, di mana tim inspeksi kini tidak hanya memeriksa produk, tetapi juga menilai kebersihan pabrik, lingkungan kerja, dan kesejahteraan karyawan. Aspek-aspek ini dapat memengaruhi peluang ekspor perusahaan. Karena itu, Do Tien Thinh menilai target bagi barang Vietnam seharusnya tidak hanya “baik”, tetapi juga “etis dan transparan”, seiring meningkatnya tuntutan untuk berpartisipasi lebih dalam dalam rantai nilai global.

Dengan persyaratan transparansi, ketertelusuran, dan tanggung jawab sosial yang semakin menonjol, perusahaan yang proaktif memenuhi standar tersebut dinilai memiliki peluang lebih besar untuk meminimalkan risiko ekspor sekaligus membangun kepercayaan dengan mitra internasional.