Diskusi publik bertajuk “JK Effect dan Nasib Trah Jokowi 2029” yang digelar Obor Rakyat Reborn di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, menyoroti dinamika politik nasional serta polemik hukum yang menyeret nama Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Dalam forum tersebut, praktisi hukum Ahmad Khozinudin memaparkan pandangannya terkait dampak hukum dan politik dari sejumlah laporan terhadap tokoh publik, serta isu ijazah Jokowi yang kembali menjadi perhatian.
Ahmad menilai laporan yang dilayangkan sejumlah organisasi masyarakat terhadap beberapa tokoh, seperti Ade Armando, Grace Natalie, dan Abu Janda, perlu ditangani kepolisian secara profesional tanpa perlakuan berbeda. Ia menekankan pentingnya penegakan hukum yang setara agar tidak menimbulkan kesan pembedaan dalam penanganan perkara.
Menurutnya, institusi kepolisian saat ini sedang menjadi perhatian publik sehingga setiap proses penyelidikan maupun penyidikan perlu dilakukan secara transparan dan akuntabel.
Di sisi politik, Ahmad menyinggung dampak yang dinilainya mulai dirasakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan kelompok pendukung Jokowi. Ia menilai langkah sejumlah tokoh yang memilih mundur dari PSI dan tidak menggunakan pendampingan hukum resmi partai sebagai upaya memisahkan persoalan pribadi dari institusi politik.
Ahmad juga menyoroti kembali ramainya isu dugaan ijazah palsu Jokowi. Ia mengaitkan hal itu dengan kritik dan pandangan yang disampaikan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla. Menurut Ahmad, Jusuf Kalla mendorong agar persoalan tersebut dijelaskan secara terbuka kepada publik, namun pandangan itu disebutnya justru dianggap sebagai tuduhan.
Ia menilai legitimasi publik akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan pengaruh politik keluarga Jokowi menuju Pemilu 2029.
Selain itu, Ahmad mengkritik kebocoran informasi terkait proses penyelidikan dan penyidikan yang dinilai terlalu cepat beredar di ruang publik sebelum diumumkan secara resmi oleh aparat penegak hukum. Ia meminta Polda Metro Jaya memberikan penjelasan resmi mengenai sumber informasi yang beredar terkait perkembangan perkara tersebut.
Diskusi yang dipandu Pemimpin Redaksi Obor Rakyat Reborn Setiyardi Budiono itu turut menghadirkan pengamat politik Lely Ariani, eks penasihat spiritual Jokowi Sri Eko Sriyanto Galgendu, serta Ketua DPP PA GMNI Budiantyo Tarigan.