Di Kampung Aris, Politik Uang Mengubah Cara Warga Cirebon Memandang Pemilu

Di Kampung Aris, Politik Uang Mengubah Cara Warga Cirebon Memandang Pemilu

Menjelang pemilu, pertanyaan yang beredar di kampung Aris, Kota Cirebon, bukan lagi soal siapa calon terbaik. Warga justru lebih dulu menanyakan satu hal yang terdengar sederhana: “Ada gerakan enggak?”

Siang itu, Aris (28) duduk di sebuah warung dekat bengkel di bawah Jalan Layang Pegambiran, Jalur Pantura, Kecamatan Lemahwungkuk. Debu semen masih menempel di sela kukunya. Udara terasa gerah, sementara suara kendaraan berat terus bersahutan dari arah jalan nasional.

Di sela menunggu panggilan kerja serabutan, Aris berbicara tentang pemilu dengan nada datar, tanpa kemarahan maupun antusiasme. Baginya, praktik bagi-bagi uang menjelang pencoblosan bukan hal baru.

“Kalau soal bagi-bagi uang mah udah biasa sekarang. Malah warga suka nanya, ‘Ini calon ada gerakan enggak?’” kata Aris, Jumat (29/5/2026), diselingi tawa kecil.

Aris, yang berasal dari Tasikmalaya, mengaku penghasilannya tidak menentu. Kadang ada pekerjaan, kadang tidak sama sekali. Dalam kondisi seperti itu, uang Rp 50 ribu atau sembako menjelang pemilu menjadi sesuatu yang sulit ditolak.

“Bukan berarti saya suka politik uang, tapi ya realistis aja. Abis pemilu juga mereka jarang balik lagi ke warga,” ujarnya.

Pernyataan itu mencerminkan cara pandang yang kian menguat di gang-gang padat Kota Cirebon: pemilu diperlakukan seperti musim singkat yang ramai sebentar, lalu berlalu tanpa kabar. Politik pun tak lagi terdengar sebagai gagasan tentang perubahan atau masa depan daerah, melainkan rutinitas yang datang dan pergi, meninggalkan jarak antara warga dan para calon yang mereka pilih.