Konten satir atau parodi kerap beredar di media sosial ketika sebuah isu sedang ramai diperbincangkan. Namun, tidak sedikit unggahan semacam ini yang kemudian disalahpahami sebagai informasi faktual dan berujung pada misinformasi.
Berikut sejumlah contoh konten satir yang sempat viral dan menjadi perhatian:
1. Klaim satir perubahan harga BBM di Jawa dan Bali per 9 Maret 2026
Tim Cek Fakta Liputan6.com menemukan unggahan yang mengklaim harga BBM di Pulau Jawa dan Bali berubah sejak 9 Maret 2026. Unggahan tersebut beredar sejak pekan sebelumnya, salah satunya muncul di Threads pada 8 Maret 2026.
Dalam unggahan itu tertulis narasi yang mengaitkan isu stok BBM dengan perang Iran vs Isræl dan US, disertai rincian harga: Pertalite Rp 5.000, Pertamax Rp 6.150, dan Pertamax Turbo Rp 6.550. Unggahan tersebut juga mencantumkan catatan bahwa harga hanya berlaku untuk Pulau Jawa dan Bali serta dihitung per setengah liter.
2. Foto satir SPBU berlogo bertuliskan “penjahat” dan narasi “Pertamax sedang dioplos”
Konten lain yang beredar adalah unggahan foto SPBU berwarna merah dengan tulisan “penjahat”. Dalam gambar yang sama juga terdapat tulisan “maaf Pertamax sedang dioplos”.
Unggahan ini beredar di media sosial sejak pekan sebelumnya. Salah satunya diunggah di Facebook pada 28 Februari 2025, disertai narasi singkat, “Kocak woy...”.
3. Unggahan satir tentang Raffi Ahmad merekomendasikan asistennya menjadi Wakil Kepala BGN
Tim Cek Fakta Liputan6.com juga menemukan unggahan yang menyebut Raffi Ahmad merekomendasikan asistennya, Lala, menjadi Wakil Kepala BGN kepada Presiden Prabowo Subianto. Konten tersebut beredar sejak akhir pekan, salah satunya diunggah di Facebook pada 6 Juli 2026.
Dalam unggahan itu terdapat tangkapan layar artikel dengan judul yang memuat pernyataan seolah-olah Raffi Ahmad merekomendasikan Lala karena dinilai ahli memberikan gizi kepada anak dan disebut “sudah terbukti” pada kedua anaknya. Pengunggah menambahkan narasi, “Raffi Ahmad angkat bicara mengenai MBAK LALA yang di isukan menjadi Wakil Kepala BGN”.
Rangkaian contoh tersebut menunjukkan bagaimana konten satir dapat tampil menyerupai informasi serius, sehingga berpotensi menimbulkan salah paham. Karena itu, warganet perlu lebih cermat membedakan parodi dengan informasi faktual, terutama saat isu tertentu sedang menjadi perhatian publik.