Sejumlah informasi menyesatkan atau hoaks yang dikaitkan dengan Kota Solo beredar di media sosial dalam berbagai tema. Beberapa di antaranya memuat klaim terkait isu politik hingga peristiwa hiburan, yang kemudian ditelusuri melalui artikel cek fakta.
Salah satu hoaks yang beredar adalah unggahan berupa tangkapan layar artikel yang mengklaim masyarakat Solo berdemonstrasi menolak Joko Widodo sebagai raja. Unggahan itu disebut beredar sejak pekan sebelumnya dan salah satunya diposting di Facebook pada 3 Februari 2026. Dalam unggahan tersebut terdapat judul yang menyatakan “Masyarakat Solo Demontrasi Bahwa Raja Mereka Adalah Gusti Purboyo Bukan JOKOWI. Jokowi Bukan Keturunan Darah Biru Imbau Masyarakat Solo..”. Klaim tersebut kemudian menjadi bahan penelusuran cek fakta.
Hoaks lain yang kembali muncul adalah tangkapan layar artikel yang menarasikan Luhut Binsar Pandjaitan meminta masyarakat Solo tidak mengusir Jokowi apabila ijazahnya palsu. Unggahan ini disebut beredar kembali dan salah satunya diposting di Facebook pada 13 November 2025. Dalam unggahan terdapat judul yang diklaim berasal dari Tempo, yakni “Luhut berharap jika Ijasah Jokowi Palsu masyarakat Solo jangan mengusir beliau,” disertai narasi tambahan dari pengunggah. Klaim tersebut juga ditelusuri melalui artikel cek fakta.
Selain isu politik, beredar pula klaim berbentuk video yang disebut memperlihatkan pembubaran paksa pertunjukan band di Solo karena dianggap “terlalu kritis”. Klaim itu diunggah di Facebook pada 11 November 2023. Dalam video, terlihat sejumlah orang berjalan di atas panggung di hadapan penonton, lalu membawa pemain alat musik yang berada di panggung. Video tersebut disertai tulisan: “Terlalu kritis band asap kota solo @malu2x pas performe jadi pembuka Dewa19 dihentikan paksa”, serta keterangan unggahan yang menuding adanya tindakan pembredelan. Klaim ini juga menjadi objek pemeriksaan fakta.
Deretan klaim tersebut menunjukkan bagaimana informasi yang mengaitkan Solo dapat beredar luas dengan narasi beragam. Masyarakat diimbau untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, terutama ketika unggahan hanya berupa tangkapan layar atau potongan video yang berpotensi menyesatkan.

