BANDA ACEH — Massa yang tergabung dalam Gerakan Anak Muda Pembela Tanoh Aceh (GAMPATA) menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Senin, 9 Maret 2026. Dalam aksi tersebut, mereka menuntut transparansi penggunaan dana penanganan bencana di Aceh.
Sejumlah spanduk berisi kritik terhadap pemerintah dibentangkan oleh peserta aksi. Salah satunya bertuliskan, “Rakyat di tenda, pejabat di mana? Dana Rp 80 miliar masuk ke kantong siapa hingga Rp 1,6 triliun buat apa.”
Aksi unjuk rasa juga diwarnai pembakaran ban bekas di depan gedung DPRA.
Dalam orasinya, Farid Duha menyampaikan bahwa masyarakat meminta kejelasan realisasi anggaran yang telah digelontorkan untuk penanganan bencana. “Berapa uang yang sudah terealisasi? Kami menduga penguasa menjadikan bencana ini sebagai ajang bermain proyek,” teriak Farid.
Ia turut mempertanyakan penanganan bencana yang disebut mencapai lebih dari Rp 150 miliar, namun dinilai tidak jelas realisasinya. Selain itu, Farid juga menyoroti distribusi logistik bencana yang disebut mencapai sekitar 650 ribu ton.
“Bantuan logistik katanya dibelanjakan sampai 650 ribu ton, tapi ke mana barang-barang itu,” katanya.
Farid menduga terdapat pihak tertentu yang melakukan penimbunan logistik sehingga memicu mahalnya harga bahan sembako, khususnya di Aceh Tengah.

