Dari “Gemoy” ke “Ndasmu”, Sorotan atas Perubahan Gaya Bahasa Politik Presiden Prabowo

Dari “Gemoy” ke “Ndasmu”, Sorotan atas Perubahan Gaya Bahasa Politik Presiden Prabowo

Dalam rentang sekitar satu tahun, citra dan gaya bahasa politik Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan setelah dinilai mengalami perubahan yang kontras dibanding masa kampanye pemilihan presiden. Jika saat kampanye ia kerap ditampilkan dengan persona “gemoy” yang menggemaskan, dalam beberapa bulan awal pemerintahannya muncul ekspresi yang dinilai lebih keras saat menanggapi kritik.

Pada masa kampanye, Prabowo—ketika itu masih berstatus calon presiden—dikenal lewat tren “joget gemoy” yang sempat viral. Dalam tulisan opini yang menjadi rujukan artikel ini, istilah “gemoy” disebut terinspirasi dari celetukan seorang influencer bernama Vior. Fenomena tersebut dipandang turut membentuk citra Prabowo yang lebih mudah diterima publik selama kontestasi politik berlangsung.

Namun, setelah lebih dari empat bulan menjalani masa kepresidenan, citra itu dinilai mulai ditinggalkan. Majalah Tempo edisi 24 Februari–3 Maret 2025, sebagaimana dikutip dalam tulisan tersebut, melaporkan bahwa pada Sabtu, 15 Februari 2025, Presiden Prabowo mengutarakan kekesalannya terhadap kritik mengenai ukuran kabinet. Ia dikutip mengatakan, “ada orang-orang pintar (yang bilang) kabinet ini terlalu gemuk. Ndasmu!”

Kata “ndasmu” dijelaskan memiliki makna ganda, bergantung pada konteks dan intonasi. Dalam situasi akrab, ungkapan itu dapat bernada candaan. Namun bila disampaikan dengan nada tinggi kepada pihak yang tidak memiliki kedekatan emosional, kata tersebut dapat ditafsirkan sebagai ekspresi kemarahan atau ketidaksukaan terhadap lawan bicara maupun para pengkritik.

Tulisan rujukan kemudian menafsirkan pergeseran diksi dari “gemoy” ke “ndasmu” sebagai indikasi perubahan psikologi politik, dengan merujuk pada Teori Kepribadian Lima Besar (Big Five). Teori ini membagi tipe kepribadian pemimpin ke dalam lima dimensi: neuroticism, extroversion, agreeableness (keramahan), openness (keterbukaan terhadap pengalaman), dan conscientiousness (kehati-hatian).

Dalam kerangka tersebut, fase “gemoy” saat kampanye dipandang sebagai manifestasi extroversion, keramahan, serta keterbukaan terhadap pengalaman. Penulis opini menilai karakter semacam itu lazim muncul dalam kampanye karena kandidat perlu memperluas dukungan politik untuk meraih suara.

Setelah berkuasa, penulis berpendapat kecenderungan itu tidak sepenuhnya dipertahankan. Penggunaan kata “ndasmu” kepada pengkritik dipakai sebagai contoh bahwa Prabowo kini terlihat lebih berhati-hati sekaligus lebih emosional dalam merespons aspirasi. Dari situ, penulis menyimpulkan adanya pergeseran dari extroversion, agreeableness, dan openness menuju conscientiousness dan neuroticism.

Meski demikian, tulisan tersebut juga mencatat bahwa Presiden sempat menunjukkan sikap responsif dan terbuka melalui langkah membatalkan sementara kebijakan PPN 12 persen serta penataan distribusi elpiji 3 kilogram. Namun, penulis menilai dalam beberapa hari terakhir sikap seperti itu semakin berkurang.

Dalam catatan akhirnya, penulis opini menyebut dimensi neuroticism tidak selalu keliru apabila diarahkan pada sasaran yang dianggap tepat. Ia mengusulkan agar kemarahan pemimpin lebih baik dialamatkan kepada pihak-pihak yang dipandang sebagai “musuh bersama”, seperti koruptor, mafia, premanisme, serta oknum birokrat elitis.