Sebuah video di Facebook yang ditonton lebih dari dua juta kali memunculkan klaim bahwa Sri Mulyani mempermalukan anggota DPR RI saat membahas utang negara. Dari hampir 7.000 komentar, banyak warganet meyakini narasi tersebut dan menilai Sri Mulyani tengah “menyindir” anggota DPR.
Namun, penelusuran Cek Fakta DW menyimpulkan klaim itu tidak benar. Video yang beredar dinyatakan salah dan palsu, karena merupakan hasil manipulasi dari rekaman lain yang konteksnya berbeda.
Berdasarkan pencarian gambar terbalik di Google, potongan video viral itu identik dengan versi lebih panjang yang diunggah Kompas.com pada 5 April 2024. Sementara unggahan yang viral di Facebook baru muncul pada 12 Juli 2025.
Dalam rekaman aslinya, Sri Mulyani tidak sedang membahas utang negara maupun berdebat dengan DPR. Ia memberikan keterangan mengenai penyusunan APBN serta alokasi bantuan sosial dalam sidang Perselisihan Hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2024 di Mahkamah Konstitusi.
Temuan tersebut selaras dengan informasi di laman resmi Kementerian Keuangan (kemenkeu.go.id) yang mencatat kehadiran Sri Mulyani dalam sidang Mahkamah Konstitusi pada Jumat, 5 April 2024. Laman itu juga menyebut Sri Mulyani memberikan keterangan terkait APBN serta alokasi dan penyaluran anggaran perlindungan sosial.
Indikasi manipulasi terlihat dari ketidaksinkronan gerakan mulut Sri Mulyani dengan suara dalam video yang beredar. Tim Cek Fakta DW menggunakan alat pendeteksi manipulasi AI, Deepfake Total, dan menemukan video tersebut dimanipulasi sekitar 17,6 persen. Pada beberapa bagian, tingkat manipulasi bahkan dilaporkan mencapai lebih dari 90 persen.
Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya menilai video itu kemungkinan besar dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan. Ia menyebut terdapat kata-kata di awal dan akhir yang dinilai sangat tidak sopan, serta menduga pembuat konten mengambil sampel suara beberapa detik lalu menghasilkan audio baru yang seolah-olah diucapkan oleh Sri Mulyani. Menurutnya, suara dalam video tidak sepenuhnya asli; sebagian mungkin suara Sri Mulyani, tetapi sisanya berpotensi direkayasa.
Alfons juga mengingatkan bahwa teknologi AI untuk membuat konten audio-visual semakin canggih dan tidak selalu mudah dikenali hanya dari aspek teknis. Karena itu, ia menyarankan publik memeriksa kredibilitas akun pengunggah dan mencari apakah konten serupa dimuat oleh media arus utama. Jika tidak ada rujukan dari sumber tepercaya, masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi hanya karena kontennya viral.
Kasus video yang mengklaim Sri Mulyani mempermalukan DPR menjadi contoh bagaimana potongan video dapat diambil dari konteks berbeda lalu dimodifikasi untuk membangun narasi tertentu. Pengguna internet diimbau lebih kritis dan berhati-hati, terutama ketika sumber unggahan tidak jelas.

