Cek Fakta Video Viral: Klaim Purbaya Yudhi Sadewa Bicara soal RUU Perampasan Aset Diduga Rekayasa

Cek Fakta Video Viral: Klaim Purbaya Yudhi Sadewa Bicara soal RUU Perampasan Aset Diduga Rekayasa

Sebuah video singkat berdurasi 26 detik yang beredar di media sosial X kembali memunculkan isu terkait Purbaya Yudhi Sadewa. Dalam rekaman itu, sosok yang disebut sebagai Menteri Keuangan terlihat berbicara di depan kamera mengenakan kemeja biru berlogo Kementerian Keuangan.

Video tersebut menampilkan narasi seolah-olah Purbaya menyatakan RUU Perampasan Aset perlu segera disahkan karena banyak koruptor disebut masih tetap kaya meski telah menjalani hukuman penjara. Unggahan yang menyertai video juga menambahkan klaim bahwa koruptor bukan hanya perlu dipenjara, tetapi juga harus “dimiskinkan”, lalu melempar pertanyaan kepada publik mengenai persetujuan terhadap pengesahan aturan tersebut.

Dalam transkrip yang beredar, video itu memuat pernyataan: “Inilah kenapa perampasan aset harus kita sahkan yang korupsi memang di penjara tapi masalahnya banyak yang keluar penjara masih kaya. Rumah tetap berdiri, rekening tetap aman, aset tetap atas nama keluarga. Mulai sekarang, itu yang kita ubah. Koruptor bukan hanya di penjara, tapi dimiskinkan.”

Namun, berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan rekaman resmi maupun keterangan publik dari Purbaya yang memuat ucapan seperti yang terdengar dalam video tersebut. Tidak ada dokumentasi kegiatan atau pernyataan pers yang memperlihatkan ia menyampaikan kalimat tersebut.

Pemeriksaan menggunakan AI Detector menunjukkan sekitar 97,1 persen bagian video terindikasi merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan. Temuan ini mengarah pada dugaan adanya manipulasi, terutama pada bagian suara maupun narasi.

Selain itu, potongan visual yang sama ditemukan dalam unggahan TikTok Purbaya. Pada video aslinya, Purbaya terlihat sedang makan di sebuah tempat di kawasan Menteng, Jakarta, tanpa membicarakan isu perampasan aset.

Dengan demikian, video yang beredar luas tersebut diduga telah melalui proses penyuntingan berbasis AI sehingga menghasilkan percakapan yang berbeda dari kondisi sebenarnya. Perubahan diduga terjadi pada elemen audio, sementara gambar diambil dari dokumentasi lain.