Sebuah video yang beredar di media sosial mengeklaim kreator konten Yuni Andarwati atau Miss Yuni memberikan bantuan modal usaha sebesar Rp150 juta kepada lima orang tenaga kerja Indonesia (TKI). Dalam unggahan tersebut, warganet juga diarahkan untuk menjawab pertanyaan tertentu dan mengirimkan jawabannya melalui fitur Messenger untuk mendapat bantuan.
Namun, berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, klaim tersebut tidak benar. Video yang beredar diketahui merupakan hasil manipulasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Tim Cek Fakta Kompas.com menelusuri akun media sosial Miss Yuni di Facebook, Instagram, dan TikTok. Dari pemeriksaan tersebut, tidak ditemukan unggahan yang berisi informasi tentang pemberian bantuan modal usaha Rp150 juta bagi lima orang TKI.
Untuk melacak asal video, tim mengambil tangkapan layar dari unggahan yang beredar dan menelusurinya menggunakan Yandex. Hasil penelusuran menunjukkan video tersebut memanipulasi konten dari unggahan di akun TikTok Miss Yuni.
Dalam video asli, Miss Yuni sedang berkomunikasi dengan seorang perempuan yang menceritakan kakaknya bekerja di Kamboja dan tidak bisa dihubungi. Menanggapi hal itu, Miss Yuni menyampaikan bahwa banyak TKI di Kamboja menjadi korban penyiksaan dan perdagangan manusia, sehingga ia selalu melarang orang Indonesia untuk bekerja di negara tersebut.
Tim Cek Fakta Kompas.com juga menguji video yang beredar menggunakan alat pendeteksi Hive Moderation. Hasilnya, video tersebut terdeteksi sebagai konten yang dihasilkan AI, dengan probabilitas mencapai 99,8 persen.
Dengan demikian, video yang mengeklaim Miss Yuni memberikan bantuan modal usaha Rp150 juta untuk lima orang TKI merupakan konten manipulatif. Video aslinya tidak memuat ajakan pemberian bantuan, melainkan percakapan mengenai hilangnya kontak seorang TKI di Kamboja.

