Sebuah video di TikTok yang diunggah pada akhir November 2025 dan telah ditonton hampir 5 juta kali mengeklaim seekor harimau dan anaknya terlihat berjalan di tengah arus banjir di Sumatra. Dalam rekaman itu, dua ekor harimau tampak melintas di area permukiman yang terendam air, disertai narasi bahwa kemunculan hewan tersebut terjadi akibat banjir bandang yang melanda sejumlah provinsi di Sumatra.
Tim Cek Fakta DW Indonesia menelusuri klaim tersebut. Hasil pemeriksaan menyimpulkan video itu tidak merekam kejadian nyata, melainkan merupakan konten hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI).
Sejumlah kejanggalan visual ditemukan saat video diperiksa secara detail. Air di sekitar hewan terlihat tetap tenang tanpa riak ketika dua harimau melintas, padahal pergerakan hewan berukuran besar semestinya menimbulkan gelombang. Pada bagian lain, salah satu harimau tampak menembus tiang kayu rumah, yang disebut sebagai ciri umum hasil render AI. Rekaman lain dari lokasi yang sama juga tidak menampilkan keberadaan harimau, sehingga memperkuat dugaan bahwa objek tersebut tidak benar-benar ada di tempat kejadian.
DW Indonesia juga melakukan pemeriksaan teknis menggunakan HIVE Moderation. Analisis sistem tersebut menunjukkan probabilitas 99,3 persen bahwa video itu merupakan konten yang dihasilkan oleh AI.
Pengamat IT Alfons Tanujaya menilai kemunculan konten hewan dalam situasi bencana kerap menjadi strategi untuk mengejar viralitas. Menurutnya, kreator memanfaatkan momen ketika publik sedang sensitif dan emosional agar video lebih mudah tersebar. “Motifnya macam-macam. Ada yang iseng coba-coba AI, ada yang ingin tampil keren, dan ada juga yang sengaja mencari perhatian supaya kontennya viral. Bencana itu momennya, dan menambahkan harimau, hiu, atau buaya membuat orang jauh lebih tertarik,” ujarnya kepada DW Indonesia.
Alfons juga mengingatkan bahwa viralitas tidak selalu berhenti pada sekadar konten hiburan. Dalam banyak kasus, katanya, keramaian dapat menjadi pintu masuk untuk motif lain, mulai dari promosi terselubung hingga penipuan digital. Ia mencontohkan pola penyisipan tautan phishing atau investasi palsu di kolom komentar setelah sebuah unggahan terlanjur ramai.
Ia menambahkan, perkembangan AI membuat masyarakat semakin sulit membedakan konten asli dan manipulasi. Karena itu, publik diminta lebih waspada terhadap tayangan dramatis yang mendadak viral, terutama saat situasi krisis. “Perkembangan AI makin baik. Sekilas saja kadang kami pun ragu apakah ini asli atau buatan. Jadi masyarakat perlu sadar bahwa apa pun yang terlihat dramatis dan mendadak viral harus dicek dulu sebelum dipercaya,” kata Alfons.
Risiko lain yang disorot adalah dampak sosial dari penyebaran konten manipulatif saat bencana. Genta Mahardhika Rozalinna, dosen dan peneliti Departemen Sosiologi Universitas Brawijaya, menyebut konten AI palsu dapat mengikis kepercayaan publik terhadap informasi bencana yang beredar. Ketika masyarakat berulang kali mendapati visual dramatis ternyata tidak faktual, mereka bisa meragukan seluruh informasi, termasuk laporan resmi dari lembaga penanggulangan bencana.
“Video palsu seperti ini mengikis kepercayaan pada informasi bencana yang asli. Orang jadi skeptis pada semuanya, bahkan terhadap kejadian yang benar-benar terjadi,” kata Genta. Ia juga menilai kondisi tersebut dapat memicu kelelahan empati, ketika publik menjadi jenuh dan kebal terhadap tragedi nyata karena terlalu sering dipancing oleh konten dramatis yang ternyata palsu.
Menurut Genta, dampaknya bisa serius karena solidaritas publik dapat melemah dan masyarakat terbelah antara yang percaya dan tidak percaya. “Empati itu penting, tetapi kalau dibangun di atas kebohongan, itu malah membuat banyak orang terluka. Di era banjir informasi ini, kita harus berhenti sejenak, verifikasi, dan sadar bahwa emosi bisa dimanipulasi,” ujarnya.
Kasus video harimau di tengah banjir ini memperlihatkan bagaimana empati publik dapat dimanfaatkan melalui konten AI yang tampak meyakinkan. Di tengah bencana, visual semacam ini mudah viral dan berisiko mengalihkan perhatian dari situasi yang sebenarnya. Para pengamat menegaskan, empati tetap dibutuhkan, namun harus disertai verifikasi agar perhatian masyarakat tidak tersesat oleh manipulasi digital.

