Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (23/09) yang memuat sejumlah pernyataan dinilai tidak akurat atau dilebih-lebihkan. Dalam pidatonya, Trump mengulang klaim lama terkait renovasi markas PBB, konflik internasional, hingga isu energi dan perubahan iklim.
Berikut beberapa klaim utama yang ditelusuri beserta konteks faktanya.
Klaim renovasi markas PBB senilai 500 juta dolar AS
Trump menyatakan pernah menawarkan renovasi markas besar PBB senilai 500 juta dolar AS, tetapi PBB disebutnya justru menghabiskan 2 hingga 4 miliar dolar AS. Klaim ini dinilai menyesatkan.
Trump memang sudah lama menyampaikan bahwa ia bisa merenovasi kantor pusat PBB dengan biaya jauh lebih murah. Pada 2001, ia menyebut angka 500 juta dolar AS kepada media, dan pada 2005 ia mengatakan kepada Kongres bahwa proyek itu bisa rampung dengan biaya hingga 700 juta dolar AS. Namun, tidak ditemukan bukti bahwa Trump Organization pernah mengajukan tawaran resmi melalui UN Global Marketplace atau arsip pengadaan resmi PBB. PBB pada 2007 memilih perusahaan Swedia, Skanska, sebagai manajer konstruksi.
Proyek renovasi tersebut memang mengalami keterlambatan dan pembengkakan biaya, dengan total pengeluaran melampaui 2 miliar dolar AS. Namun, klaim Trump tentang biaya “2 hingga 4 miliar dolar AS” dinilai melebih-lebihkan. Data resmi PBB dan pemerintah AS menunjukkan biaya akhir berada di kisaran 2,15 hingga 2,31 miliar dolar AS, bukan 4 miliar dolar AS.
Klaim mengakhiri tujuh perang
Trump juga menyatakan telah mengakhiri tujuh perang, dengan menyebut konflik antara Kamboja dan Thailand, Kosovo dan Serbia, Kongo dan Rwanda, Pakistan dan India, Israel dan Iran, Mesir dan Etiopia, serta Armenia dan Azerbaijan. Klaim ini dinilai salah.
Sejumlah konflik yang disebutkan masih belum terselesaikan atau tetap bergejolak, sementara peran Trump dalam beberapa kasus diperdebatkan. Mesir dan Etiopia, misalnya, tidak pernah berperang selama masa jabatan Trump. Perselisihan kedua negara berkaitan dengan proyek Bendungan Grand Renaissance senilai 4 miliar dolar AS milik Etiopia, yang dikhawatirkan dapat mengurangi pasokan air Sungai Nil ke Mesir dan Sudan.
Serbia dan Kosovo juga tidak sedang berperang. Kesepakatan pada 2020 yang dikaitkan dengan Trump disebut hanya menyentuh aspek ekonomi, bukan perdamaian. Di Republik Demokratik Kongo, kekerasan masih terjadi meski ada kesepakatan tahun 2024 yang dimediasi selama masa pemerintahan Trump. Sementara itu, ketegangan Israel dan Iran dinilai belum terselesaikan dan berpotensi memanas kembali, dengan peringatan terbuka dari pejabat militer kedua negara mengenai kemungkinan konflik.
Secara keseluruhan, klaim bahwa Trump mengakhiri “tujuh perang” dinilai sangat melebih-lebihkan pencapaiannya.
Klaim Jerman meninggalkan energi hijau demi fosil dan nuklir
Trump menyebut Jerman kembali ke bahan bakar fosil dan nuklir dan disebutnya “baik-baik saja” setelah meninggalkan agenda hijau. Klaim ini dinilai menyesatkan.
Jerman secara resmi menutup tiga reaktor nuklir terakhir pada April 2023. Meski pembangkit batu bara sempat diaktifkan kembali saat krisis energi Eropa pada 2022, penggunaannya dilaporkan menurun. Pada 2024, energi terbarukan menyumbang rekor 63% dari listrik Jerman. Jerman memang membangun terminal LNG untuk mengurangi ketergantungan pada gas Rusia, tetapi tidak ada tanda negara tersebut kembali ke energi nuklir.
Klaim energi terbarukan mahal dan tidak efektif
Trump menyebut energi terbarukan sebagai “lelucon”, menyatakan turbin angin tidak berfungsi, terlalu mahal, dan dibuat di Cina yang disebutnya jarang menggunakannya. Klaim ini dinilai salah.
Energi terbarukan disebut telah menjadi salah satu sumber energi baru termurah. Laporan Lazard tahun 2024 menyebut biaya pembangkitan listrik dari angin dan surya tanpa subsidi sering kali lebih murah dibandingkan pembangkit bahan bakar fosil baru.
Pernyataan bahwa Cina “hampir tidak menggunakan” energi angin juga bertentangan dengan data. Cina disebut bukan hanya produsen turbin terbesar, tetapi juga pengguna energi angin terbesar di dunia. Menurut Asosiasi Energi Angin Dunia (WWEA), Cina menghasilkan lebih dari 500 gigawatt energi angin pada 2024, atau hampir setengah dari kapasitas global.
Pidato Trump di PBB kembali menyorot perdebatan lama seputar kebijakan energi, konflik internasional, dan klaim capaian diplomatik. Sejumlah pernyataan yang disampaikan dalam forum tersebut dinilai tidak didukung bukti memadai atau tidak sesuai dengan data resmi yang tersedia.

