Cek Fakta: Klaim Video Simulasi Pandemi Tahun 2017 Viral di TikTok, Ini Hasil Penelusurannya

Cek Fakta: Klaim Video Simulasi Pandemi Tahun 2017 Viral di TikTok, Ini Hasil Penelusurannya

Sebuah video yang viral di TikTok mengeklaim adanya rekaman simulasi pandemi yang dilakukan pada tahun 2017. Unggahan itu juga mengaitkan video tersebut dengan berkas Epstein yang disebut dipublikasikan Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS). Dalam video, tampak petugas rumah sakit mengenakan pakaian hazmat dan direkam menggunakan kamera profesional.

Video yang diunggah pada 7 Februari 2026 itu telah ditonton lebih dari 900 ribu kali, dibagikan lebih dari empat ribu kali, serta memperoleh lebih dari 16.000 likes. Respons warganet beragam, mulai dari yang mempercayai klaim tersebut dan menyimpulkan pandemi “direncanakan”, hingga yang mempertanyakan kebenarannya.

Tim Cek Fakta DW Indonesia kemudian menelusuri klaim bahwa video tersebut merupakan simulasi pandemi yang direkam pada 2017. Hasilnya, klaim itu dinyatakan salah.

Berdasarkan analisis menggunakan alat pendeteksi AI Hive Moderation, video tersebut dinilai sebagai video asli dan bukan hasil manipulasi atau buatan AI, dengan probabilitas 70%.

Namun, penelusuran melalui Google Reverse Image menunjukkan video itu sudah beredar di berbagai platform media sosial dan telah diulas media internasional sejak 2021. Sejumlah ulasan mengindikasikan rekaman tersebut dibuat di sebuah rumah sakit di Israel, Shamir Medical Center.

Penelusuran lebih lanjut menemukan kanal YouTube Shamir Medical Center menampilkan video profil yang identik dengan video viral tersebut. Video profil itu diunggah pada 26 Maret 2021. Kesamaan terlihat dari ruangan dan warna dinding, nomor tanda ranjang, tulisan pada pakaian hazmat, serta adegan mendorong ranjang yang serupa.

Berdasarkan temuan tersebut, video yang beredar bukan rekaman simulasi pandemi tahun 2017, melainkan bagian dari proses di balik layar pembuatan video profil yang dirilis secara terbuka.

DW Indonesia juga menemukan bahwa video viral berdurasi 45 detik itu merupakan gabungan dari dua video berbeda. Melalui pelacakan reverse image, ditemukan video di YouTube yang diunggah pada 5 Maret 2021 berdurasi 1 menit 2 detik. Jika diamati, terdapat perbedaan dan transisi antara bagian-bagian video, termasuk pada segmen kedua yang menampilkan petugas menari sambil mengenakan hazmat.

Potongan berbeda tersebut juga pernah diunggah pada 8 Juli 2020 oleh Hamal News dengan konteks lain. Dalam unggahan itu, rekaman disebut memperlihatkan sekelompok orang berpakaian hazmat yang menari dalam sebuah perayaan pernikahan. Video tersebut sempat menuai kontroversi di Israel, tetapi tidak berkaitan dengan simulasi pandemi sebagaimana klaim yang beredar.

Selain menggabungkan dua video, unggahan viral itu juga mengaitkannya dengan berkas Epstein, yakni jutaan dokumen yang dirilis Departemen Kehakiman AS. Namun, saat dilakukan pencarian di berkas tersebut dengan kata kunci “pandemic simulation”, memang muncul empat dokumen berisi riwayat percakapan dari surat elektronik dan aplikasi percakapan, tetapi tidak membahas secara spesifik tentang simulasi pandemi.

Kepada DW Indonesia, psikolog Virginia Hanny menjelaskan disinformasi semacam ini mudah menyebar karena otak manusia secara alamiah tidak nyaman dengan ketidakpastian. Akibatnya, sebagian orang cenderung mengaitkan dua peristiwa agar terasa lebih masuk akal, sebuah kecenderungan yang disebut sebagai confirmation bias.

“Ketika ada dua peristiwa besar yang mungkin berdekatan tapi sebenarnya enggak ada hubungannya, orang akan cenderung mencari hubungan di antaranya supaya situasinya terasa lebih masuk akal. Ini adalah confirmation bias,” ujarnya.

Hanny menambahkan, hoaks kerap memicu emosi kuat seperti takut, marah, dan curiga sehingga lebih cepat menyebar dibanding informasi netral. Untuk menghindari bias tersebut, ia mengingatkan bahwa informasi yang diterima belum tentu benar dan perlu diperiksa kembali kebenarannya.