Cek Fakta: Tuduhan Greenpeace soal ‘Keuntungan Berlebih’ Perusahaan Minyak di Tengah Perang dan Lonjakan Harga BBM

Cek Fakta: Tuduhan Greenpeace soal ‘Keuntungan Berlebih’ Perusahaan Minyak di Tengah Perang dan Lonjakan Harga BBM

Lonjakan harga bensin dan solar di Jerman kembali memicu perdebatan tentang praktik penetapan harga perusahaan minyak, terutama setelah pecahnya perang Iran-Irak pada musim semi 2026. Dalam situasi itu, Greenpeace menerbitkan artikel yang menuding perusahaan-perusahaan minyak memanfaatkan konflik geopolitik untuk meraup “keuntungan berlebih” dan mendorong konsekuensi politik, termasuk pajak keuntungan berlebih.

Sejumlah temuan dalam artikel tersebut dinilai memiliki dasar faktual, namun beberapa klaim dan kesimpulannya dianggap menyederhanakan mekanisme pasar yang kompleks, mengabaikan data pembanding yang penting, serta mencampurkan analisis dengan dorongan kebijakan yang bernuansa politis. Berikut rangkuman pengecekan terhadap poin-poin utama yang diperdebatkan.

Kenaikan harga setelah perang: terdokumentasi

Kenaikan harga BBM setelah perang pecah disebut nyata dan tercatat. Pada hari-hari awal konflik, harga solar di Jerman naik sekitar 8 sen per liter, sementara bensin (E10) naik sekitar 6 sen. Pada awal Maret 2026, keduanya menembus level di atas €2 per liter—yang disebut sebagai level tertinggi sejak 2022. Harga minyak pemanas juga mencapai titik tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Selat Hormuz dan guncangan pasokan: faktor pendorong yang relevan

Klaim bahwa ancaman penutupan Selat Hormuz menjadi pendorong utama kenaikan harga minyak dinilai sesuai fakta. Sekitar 20% ekspor minyak global melewati selat tersebut setiap hari. Situasi blokade de facto—akibat ancaman Iran dan serangan terhadap kapal tanker—dilaporkan sempat mendorong harga minyak mentah Brent hingga melampaui US$120 per barel. Dalam periode yang sama, Arab Saudi juga disebut menutup sementara kilang terbesarnya setelah serangan pesawat tak berawak.

Harga di SPBU naik lebih cepat daripada harga minyak mentah: terbukti

Salah satu poin terkuat dalam kritik Greenpeace adalah dugaan kenaikan harga di SPBU yang tidak sebanding dengan kenaikan harga minyak mentah. Data independen dan temuan studi Steffen Bukold mendukung adanya selisih tersebut. Dalam periode yang diteliti, harga minyak mentah naik setara 13,1 sen per liter, tetapi harga solar di SPBU naik 30,3 sen, sementara bensin naik 18,5 sen.

Kantor Kartel Federal Jerman juga disebut mengonfirmasi adanya pemisahan yang mencolok antara harga solar grosir dan harga minyak mentah dalam laporan triwulanan Q1/2026. Pada 19 Maret, selisih harga solar dilaporkan sekitar 25 sen lebih tinggi dibanding kenaikan harga minyak mentah.

Struktur oligopoli dan integrasi vertikal: masalah lama yang kembali terlihat saat krisis

Greenpeace menyoroti struktur pasar oligopolistik sebagai sumber kekuatan penetapan harga. Hal ini sejalan dengan temuan Kantor Kartel Federal Jerman pada 2011 yang menyebut BP/Aral, ConocoPhillips/Jet, ExxonMobil/Esso, Shell, dan Total membentuk oligopoli dominan dan tidak bersaing secara signifikan satu sama lain. Dengan integrasi vertikal—ketika perusahaan yang sama menguasai kilang hingga jaringan SPBU—mereka dinilai memiliki kemampuan meneruskan kenaikan harga kepada konsumen tanpa tekanan persaingan yang kuat.

Asosiasi Operator SPBU Jerman (TIV) juga dikutip menyatakan pada 2025 bahwa perusahaan-perusahaan tersebut “dengan kejam mengeksploitasi” kekuatan pasar mereka dan penyewa SPBU tidak memiliki pengaruh terhadap harga.

Dampak pada rumah tangga: perhitungan skenario, bukan pengukuran

Perkiraan Greenpeace tentang tambahan beban biaya hingga sekitar €500 per tahun dinilai masuk akal secara metodologis, namun dicatat sebagai perhitungan skenario. Rincian yang disebutkan antara lain tambahan biaya €923 untuk rumah keluarga tunggal dengan pemanas minyak dan €835 untuk pengemudi mobil diesel. Angka-angka ini berbasis proyeksi harga pertengahan Maret 2026 dan profil konsumsi tipikal.

“Roket dan bulu”: kenaikan cepat, penurunan lambat

Greenpeace juga menyinggung pola kenaikan harga yang cepat dan penurunan yang lambat, dikenal sebagai “efek roket dan bulu”. Fenomena ini disebut terdokumentasi dalam kajian ilmiah dan diamati pula oleh Kantor Kartel Federal Jerman dalam pemantauan tahun 2026.

Bagian yang dinilai disederhanakan atau diputarbalikkan

Jerman tidak paling parah di Uni Eropa

Artikel Greenpeace dinilai memberi kesan Jerman terdampak secara luar biasa dibanding negara Uni Eropa lain. Namun data Komisi Uni Eropa yang dikutip menyatakan bahwa pada akhir Maret 2026, Jerman berada di peringkat ke-17 dari 27 negara anggota untuk kenaikan harga solar (40%) dan peringkat ke-16 untuk kenaikan harga bensin (29%). Ini menempatkan Jerman di tengah peringkat, sehingga klaim tersirat tentang kondisi yang “unik” atau keuntungan berlebih yang sangat besar di Jerman secara umum disebut tidak dapat dibuktikan.

Ketergantungan impor solar: tidak bisa diabaikan

Greenpeace menyatakan bahwa di Jerman “hampir setiap liter solar” dimurnikan di dalam negeri sehingga ketergantungan pada impor “hampir tidak ada”. Poin ini dinilai terlalu menyederhanakan. Data yang dikutip menyebut Jerman memenuhi sekitar 67% kebutuhan solar melalui pemurnian domestik pada 2023, namun pada 2024 tetap mengimpor sekitar 12,7 juta ton solar, terutama dari Belanda, Belgia, dan negara lain. Dengan demikian, pasar solar tetap terkait dengan dinamika global dan rentan terhadap gangguan pasokan.

Argumen “stok minyak mentah dibeli murah” tidak otomatis membuat harga sekarang harus rendah

Kritik bahwa kenaikan harga tidak dapat dibenarkan karena minyak mentah dibeli lebih murah beberapa bulan sebelumnya dinilai keliru secara ekonomi. Dalam mekanisme pasar, harga lebih ditentukan oleh penawaran-permintaan dan biaya peluang. Jika pelaku pasar memperkirakan biaya penggantian stok akan lebih mahal, mereka memiliki insentif menyesuaikan harga saat ini tanpa harus ada kolusi.

Pajak keuntungan berlebih: bukan solusi sederhana

Greenpeace mendorong pajak keuntungan berlebih sebagai langkah kebijakan, tetapi implementasinya disebut sarat persoalan. Beberapa isu yang dicatat meliputi definisi “keuntungan berlebih” dan periode pembanding, kepastian hukum karena pajak sektoral dapat digugat, potensi pengalihan keuntungan oleh perusahaan multinasional ke yurisdiksi pajak lain, serta risiko distorsi insentif investasi untuk kapasitas produksi masa depan.

Catatan ini tidak menyimpulkan pajak semacam itu pasti salah—sejumlah negara Uni Eropa seperti Italia, Spanyol, dan Inggris pernah menerapkannya pada 2022—namun disebut bahwa Greenpeace menyajikannya seolah solusi mudah tanpa mengulas kompleksitasnya.

Model Austria (pembatasan kenaikan harga sekali sehari): efektivitas dipertanyakan

Gagasan meniru model Austria—yang hanya mengizinkan satu kenaikan harga per hari—menjadi bagian perdebatan dan disebut diterapkan di Jerman pada 1 April 2026. Namun, tren harga di Austria pada periode yang sama disebut menunjukkan kenaikan bensin lebih tajam dibanding Jerman. Ekonom persaingan Justus Haucap juga pernah menilai pada 2012 bahwa model tersebut bisa kontraproduktif karena memberi ruang perusahaan “menarik” kenaikan besar sekali sehari.

Istilah dan framing: dinilai terlalu moralistik

Istilah “keuntungan berlebih” dinilai efektif secara politik, tetapi tidak selalu presisi secara ekonomi karena margin kilang dapat berfluktuasi dan batas “normal” sulit ditetapkan. Selain itu, atribusi kausal berupa “keserakahan” atau “penipuan” dianggap menyederhanakan persoalan. Penjelasan yang lebih bernuansa menyebut bahwa dalam oligopoli, harga dapat naik lebih cepat daripada biaya karena struktur pasar memungkinkan dan karena kepentingan diri yang rasional tidak memiliki penyeimbang—bukan semata-mata karena adanya kartel yang disengaja.

Kesimpulan

Pengecekan terhadap klaim-klaim utama menunjukkan bahwa sebagian inti kritik Greenpeace didukung data: perang dan gangguan di Selat Hormuz berkorelasi dengan lonjakan harga, dan terdapat bukti bahwa harga di SPBU naik tidak proporsional dibanding harga minyak mentah. Struktur oligopoli dan integrasi vertikal di pasar BBM Jerman juga disebut telah lama didokumentasikan oleh Kantor Kartel Federal dan kembali terlihat dampaknya saat krisis.

Namun, beberapa narasi dinilai berlebihan atau tidak lengkap, terutama ketika menggambarkan Jerman sebagai kasus yang sangat berbeda dibanding Uni Eropa, menyederhanakan ketergantungan impor solar, serta mengajukan pajak keuntungan berlebih dan model Austria sebagai jawaban yang seolah langsung menyelesaikan persoalan. Secara keseluruhan, isu struktural pasar disebut nyata, tetapi cara penyajiannya dinilai lebih condong pada mobilisasi kebijakan tertentu ketimbang analisis yang sepenuhnya seimbang.