Sebuah video yang viral di media sosial mengklaim abu rokok dapat mengeringkan luka jika dioleskan langsung ke kulit. Namun, hasil penelusuran tim Cek Fakta DW menyimpulkan klaim tersebut salah.
Video TikTok yang diunggah pada 29 Januari 2025 itu telah ditonton lebih dari 820 ribu kali. Dalam tayangan tersebut, terlihat seseorang mengambil abu rokok dari asbak dan mengoleskannya ke bagian kulit yang terluka. Teks pada video menyatakan bahwa luka akan cepat kering dan tidak menimbulkan rasa perih.
Dalam penelusuran melalui jurnal ilmiah di Google Scholar, tim Cek Fakta DW menyebut tidak menemukan bukti ilmiah yang mendukung penggunaan abu rokok sebagai obat untuk mengeringkan luka. Sejumlah publikasi yang ditemukan justru lebih banyak membahas potensi tanaman tembakau, bukan abu rokok atau tembakau yang telah melalui proses pembakaran.
Dokter Spesialis Kulit, Dr dr. Dhelya Widasmara SpDVE, mengatakan abu rokok mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat memperparah kondisi luka. Ia menyebut abu rokok mengandung zat toksik dan karsinogen seperti tar, nikotin, dan logam berat yang bersifat iritan kuat serta dapat meningkatkan risiko infeksi pada luka.
Pendapat serupa disampaikan Dokter Spesialis Kulit dr. Edwin Tanihaha, Sp.KK. Menurutnya, pengaplikasian abu rokok ke kulit tidak memberi dampak positif dan justru berpotensi memperlambat penyembuhan. Ia menjelaskan abu rokok sudah menjadi radikal bebas, sementara tembakau memiliki sifat vasokonstriksi yang dapat menghambat aliran darah, sehingga pasokan oksigen dan nutrisi ke area luka berkurang.
Adapun terkait asal-usul mitos, dr. Dhelya menilai kemungkinan keyakinan tersebut berakar dari tradisi masa lalu. Namun, ia menekankan bahwa praktik yang dikenal dalam tradisi biasanya menggunakan daun tembakau, bukan abu rokok. Ia juga mengaitkan kepercayaan turun-temurun itu dengan efek plasebo, karena pengeringan luka pada dasarnya terjadi melalui respons imun alami tubuh, bukan karena abu rokok.
Dr. Dhelya menambahkan, dalam konteks modern, tembakau justru diketahui dapat memperlambat penyembuhan luka karena efek vasokonstriksi yang menurunkan aliran darah ke jaringan yang mengalami luka.
Para pakar mengimbau masyarakat merawat luka dengan metode yang telah terbukti secara ilmiah dan tidak mengikuti tips kesehatan yang sumbernya tidak jelas. Dr. Dhelya menyarankan langkah perawatan dasar, yakni mencuci luka dengan air mengalir, menggunakan antiseptik yang aman seperti povidon iodine atau chlorhexidine, menutup luka terbuka dengan kasa steril, serta memantau tanda-tanda infeksi.

