Sebuah kutipan berbahasa Jerman yang menyatakan “Eropa sedang hancur. Akibat dari bantuan yang tidak berguna untuk Ukraina” ramai beredar di media sosial sepanjang 2024. Kalimat itu dikaitkan dengan Till Lindemann, vokalis band asal Jerman, Rammstein. Namun, Lindemann disebut tidak pernah mengucapkannya. Manajemen Rammstein memastikan kepada kantor berita Jerman DPA bahwa sang vokalis sama sekali tidak membuat pernyataan tersebut.
Kasus itu menjadi contoh pola disinformasi yang memanfaatkan popularitas tokoh terkenal untuk memicu polarisasi dan memengaruhi opini publik, terutama pada isu politik yang kontroversial. Lindemann bukan satu-satunya selebritas yang namanya dicatut untuk menyebarkan sentimen anti-Ukraina. Sejumlah aktor Jerman dan bintang internasional juga dilaporkan menjadi korban.
Salah satu bentuk penyebaran yang kerap muncul adalah “kartu kutipan palsu” (fake quote card): gambar yang menampilkan foto seseorang disertai kutipan yang ternyata tidak pernah diucapkan. Konten semacam ini sempat disebarkan dalam bahasa Jerman, terutama melalui iklan Facebook, sebelum kemudian dihapus.
Kementerian Dalam Negeri Jerman mengaitkan sejumlah kasus tersebut dengan kampanye disinformasi yang dikenal sebagai Russian Doppelganger, yang pertama kali terungkap pada 2022. Menurut keterangan kementerian, operator kampanye ini membuat situs palsu yang meniru media Eropa untuk menyebarkan berita bohong dan propaganda pro-Rusia. Sejak November 2023, pihak di balik kampanye itu disebut mulai memakai teknik baru: mengaitkan kutipan palsu dengan selebritas.
Langkah sederhana memeriksa kutipan yang mencurigakan
Saat menemukan kutipan yang meragukan, ada beberapa pertanyaan awal yang bisa membantu: apakah tokoh tersebut pernah menyampaikan hal serupa sebelumnya? Atau justru pernyataannya terasa mengejutkan dan bertolak belakang dari sikap mereka?
Contohnya pada kasus Lindemann. Pada 2022, tak lama setelah Rusia memulai perang di Ukraina, Lindemann menjadi relawan di stasiun utama Berlin untuk membantu pengungsi Ukraina yang baru tiba. Rammstein juga pernah mengeluarkan pernyataan resmi yang mendukung rakyat Ukraina, dan pernyataan itu masih dapat ditemukan di situs resmi mereka.
Untuk verifikasi, langkah pertama adalah memeriksa akun media sosial resmi tokoh yang bersangkutan: apakah ada unggahan yang memuat pernyataan yang sama atau serupa. Langkah berikutnya, telusuri kutipan itu melalui mesin pencari dengan menambahkan nama tokoh tersebut. Jika figur terkenal benar-benar mengeluarkan pernyataan kontroversial, biasanya media berita akan memberitakannya. Jika tidak ada pemberitaan sama sekali, itu bisa menjadi sinyal bahwa kutipan tersebut kemungkinan palsu.
Dalam beberapa situasi, pencarian juga dapat mengarah pada artikel pemeriksaan fakta yang membongkar klaim. Jika kutipan disajikan dalam bentuk gambar di media sosial, kolom komentar juga bisa menjadi petunjuk: sering kali pengguna lain lebih dulu menunjukkan bahwa konten itu bohong dan menyertakan tautan rujukan.
Waspadai bias dan emosi yang dipancing
Quote card palsu juga pernah menampilkan Alexandria Ocasio-Cortez, anggota Partai Demokrat AS. Salah satu unggahan di X (sebelumnya Twitter) bahkan disebut telah dilihat hampir 500.000 kali. Dalam unggahan itu, Ocasio-Cortez diklaim berkata: “Bulan lebih penting daripada matahari, karena bulan memberi kita cahaya saat malam ketika gelap. Sementara matahari hanya memberi kita cahaya di siang hari, saat sudah terang.”
Klaim tersebut dinilai tidak memiliki bukti. Pemeriksaan fakta dari kantor berita Reuters dan situs Snopes.com menyimpulkan bahwa kutipan itu palsu. Pernyataan serupa juga pernah salah dikaitkan dengan Lauren Boebert, anggota Kongres dari Partai Republik yang dikenal vokal mendukung hak kepemilikan senjata api.
Meski terdengar aneh, sebagian orang tetap memercayainya. Kolom komentar pada unggahan semacam itu kerap dipenuhi amarah dan hinaan. Karena itu, saat berselancar di media sosial, penting untuk berhenti sejenak sebelum membagikan konten yang memicu emosi. Banyak berita palsu memang dirancang untuk memancing reaksi cepat. Selain itu, setiap orang memiliki bias tertentu, dan penyebar disinformasi memanfaatkan bias tersebut untuk menguatkan kebohongan.
Meniru tampilan situs berita untuk terlihat kredibel
Jika sebuah unggahan mencantumkan sumber dan tanggal, pembaca disarankan mengecek ulang ke sumber yang disebut: apakah kutipan itu benar-benar pernah dimuat di sana. Salah satu contoh terjadi di Kenya dan banyak dibagikan di Facebook.
Sebuah foto memperlihatkan Raila Odinga, mantan Perdana Menteri Kenya, berjalan bersama Presiden William Ruto. Dalam kutipan yang disematkan, Odinga diklaim bersedia mendukung Ruto untuk pencalonan ulang pada pemilu 2027. Tangkapan layar itu tampak seperti unggahan dari kenyans.co.ke—mulai dari logo, tata letak, hingga jenis huruf—sehingga terlihat meyakinkan sekilas.
Namun, kenyans.co.ke mengklarifikasi bahwa unggahan tersebut bukan berasal dari mereka. Dua organisasi pemeriksa fakta, AfricaCheck dan PesaCheck, juga menyatakan kutipan itu hoaks. Kasus ini dikenal sebagai media spoofing, yakni praktik meniru tampilan media resmi agar informasi palsu terlihat kredibel.
Pengecekan sederhana dapat membantu membongkarnya, misalnya dengan memeriksa akun resmi kenyans.co.ke di media sosial atau menggunakan alat arsip web. Jika unggahan tidak ditemukan, itu menjadi tanda peringatan. Isi kutipan juga dinilai janggal karena Odinga dan Ruto dikenal sebagai rival politik. Pada pemilu presiden 2022, Odinga menjadi pesaing Ruto, menolak hasil pemilu, dan setelahnya berulang kali menggerakkan pendukung untuk protes. Karena itu, klaim dukungan mendadak tiga tahun sebelum pemilu berikutnya tanpa liputan besar di media Kenya maupun internasional patut dicurigai.
Kutipan palsu bisa bertahan bertahun-tahun
Sejumlah kutipan palsu bahkan beredar lama di internet. Setelah perang Israel-Hamas pecah, misalnya, muncul kutipan yang dikaitkan dengan Angelina Jolie: “Arab dan Muslim bukan teroris. Dunia harus bersatu melawan Israel.” Gambar ini beredar di Instagram, LinkedIn, dan X.
Menurut penelusuran Snopes.com, pernyataan tersebut palsu dan telah beredar hampir dua dekade—setidaknya sejak 2006—serta ditemukan dalam unggahan lama pada 2014. Tidak ada bukti Jolie pernah mengucapkan atau menulis kalimat itu, baik terkait konflik terbaru maupun sebelumnya.
Kesimpulannya, tangkapan layar atau gambar yang tampak berasal dari akun resmi selebritas tidak dapat dijadikan bukti final. Screenshot bisa dimanipulasi. Memeriksa akun resmi, menelusuri pemberitaan media tepercaya, dan mencari hasil pemeriksaan fakta tetap menjadi langkah penting untuk menghindari ikut menyebarkan kutipan palsu.

