Jakarta — Peneliti Senior Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli menilai pernyataan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh yang menyinggung kemunafikan politik mencerminkan sikap publik dan patut menjadi bahan refleksi para politisi serta elite bangsa.
Lili mengatakan, pernyataan Surya Paloh dinilai mewakili aspirasi mayoritas masyarakat yang selama ini kecewa karena adanya jarak antara ucapan dan tindakan dalam praktik pemerintahan. Ia menyebut fenomena tersebut telah lama menjadi sumber kekecewaan publik.
Menurut Lili, pesan yang disampaikan Surya Paloh juga menggambarkan realitas yang berkembang menjadi budaya buruk dalam politik Indonesia dan seharusnya bisa dihilangkan. Ia menilai ungkapan itu dapat merepresentasikan kegelisahan masyarakat yang lelah dengan perilaku elite dan pemimpin yang dinilai “lain di bibir, lain di hati.”
Lili menekankan, pernyataan tersebut semestinya mendorong tumbuhnya kesadaran di kalangan elite. Ia berpendapat, bangsa tidak akan bisa maju apabila terus dikelola dengan cara-cara yang munafik. Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat merindukan pemimpin yang otentik, bukan yang mengandalkan pencitraan dan hipokrisi.
Sementara itu, pakar komunikasi politik Hendri Satrio menilai kalimat pidato Surya Paloh menunjukkan kepedulian terhadap kondisi politik dan pemerintahan di Indonesia. Ia memandang Surya Paloh menempatkan diri sebagai sosok yang kritis terhadap pemerintahan, namun tidak serta-merta berada pada posisi oposisi.
Hendri menilai pesan dalam pidato tersebut kuat dan penting sebagai masukan bagi para elite, terutama politisi yang berada di dalam pemerintahan. Ia berharap masukan itu dapat mendorong pemerintah bekerja lebih efektif dan efisien dalam menjalankan visi serta target pembangunan.

