JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan penanganan darurat dan pemulihan bencana hidrometeorologi basah di Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara hingga Jumat, 23 Januari 2026. Upaya terpadu lintas sektor terus dilakukan untuk memastikan keselamatan warga terdampak sekaligus mempercepat transisi dari fase tanggap darurat menuju pemulihan awal.
BNPB menyebut tidak ada penambahan jumlah korban meninggal dunia, hilang, maupun pengungsi dalam laporan terbaru. Total korban meninggal tercatat 1.200 jiwa, korban hilang 143 jiwa, dan jumlah pengungsi 113.903 jiwa.
Di lapangan, percepatan pembangunan hunian sementara (huntara), pembukaan dan pembersihan akses jalan serta jembatan, dan pemulihan kawasan permukiman terus ditingkatkan agar wilayah terdampak kembali kondusif untuk dihuni. Kegiatan ini dilaksanakan tim gabungan yang terdiri dari BNPB, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta kementerian dan lembaga terkait.
Berdasarkan laporan distribusi logistik yang dihimpun sejak 29 November 2025 hingga 22 Januari 2026, total bantuan yang telah disalurkan kepada masyarakat terdampak mencapai 1.763,1 ton. Penyaluran dilakukan melalui 56 sorti pesawat charter BNPB, 66 sorti pesawat Hercules, 55 truk jalur darat, serta 7 kapal laut.
Untuk distribusi harian pada 22 Januari 2026, BNPB mencatat pengiriman logistik ke Aceh melalui jalur udara sebanyak 8 sorti dengan muatan 8,7 ton dan melalui jalur darat menggunakan 4 truk dengan muatan 6,3 ton, sehingga total 15 ton. Di Sumatra Utara, distribusi dilakukan melalui jalur darat menggunakan 8 truk dengan total 19,84 ton. Sementara di Sumatra Barat, bantuan logistik yang dikirim melalui jalur darat tercatat 11,38 ton.
Selain pos logistik di tiap provinsi, BNPB juga menyalurkan bantuan dari dua pos logistik yang menjangkau tiga provinsi tersebut, yakni Pos Logistik Sumatra Barat dan Pos Logistik Aceh. Dari Pos Logistik Sumatra Barat, total bantuan yang telah didistribusikan mencapai 971,03 ton. Sementara dari Pos Logistik Aceh tercatat 2.142 ton bantuan telah didistribusikan.
Dalam aspek hunian, BNPB bersama pemerintah daerah mengakselerasi pembangunan huntara dengan target utama penyelesaian sebelum bulan Ramadan. Dari total 29.621 unit huntara yang diajukan, sebanyak 7.414 unit masih dalam proses pembangunan, sedangkan 1.056 unit telah selesai dibangun dan siap dihuni. Adapun pengajuan pembangunan hunian tetap tercatat 13.082 unit, dengan 648 unit di antaranya berada dalam tahap konstruksi.
Skema bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) juga terus dioptimalkan untuk mendukung kebutuhan dasar warga terdampak selama masa transisi menuju hunian tetap. Menjelang akhir Januari 2026, pengajuan DTH mencapai 14.822 kepala keluarga. Dari jumlah itu, 9.678 rekening penerima disebut telah siap, dan bantuan telah disalurkan kepada 3.255 kepala keluarga.
BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bagian dari percepatan tanggap darurat, pemulihan, serta mitigasi risiko bencana hidrometeorologi basah dalam jangka pendek. Hingga 22 Januari 2026, OMC di Aceh telah dilaksanakan 532 sorti dengan total bahan semai natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) sebesar 508.000 kilogram. Di Sumatra Utara, OMC dilakukan 406 sorti dengan total bahan semai 357.000 kilogram. Sementara di Sumatra Barat tercatat 409 sorti dengan total bahan semai 406.325 kilogram. Operasi ini ditujukan untuk mengendalikan intensitas curah hujan dan mengurangi potensi bencana susulan di wilayah rawan.
BNPB menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, serta unsur masyarakat lainnya agar penanganan bencana berjalan efektif, terukur, dan berkelanjutan.
Melalui sinergi lintas pihak, percepatan pemulihan infrastruktur dasar, pemenuhan kebutuhan hunian layak, serta penguatan langkah mitigasi diharapkan dapat mengembalikan kehidupan masyarakat terdampak secara bertahap menuju kondisi yang lebih aman dan tangguh.

