Seekor bayi orangutan betina ditemukan sendirian di kebun sawit milik warga di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Warga yang mengetahui keberadaan satwa dilindungi itu kemudian melaporkannya kepada petugas.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) sempat melakukan pencarian dan pemantauan selama beberapa hari untuk memastikan keberadaan induknya. Namun, induk orangutan tersebut tidak kunjung terlihat. Tim gabungan lalu menamai bayi orangutan itu Jani.
Dokter hewan YIARI, Komara, menjelaskan bahwa anak orangutan di alam liar sangat bergantung pada induknya hingga usia enam sampai delapan tahun, baik untuk perlindungan, asupan nutrisi, maupun pembelajaran perilaku bertahan hidup. Menurut dia, bayi orangutan yang terpisah dari induknya menghadapi risiko tinggi karena ancaman lingkungan sekitar.
Komara menyebut penanganan manual menjadi pilihan paling aman, dengan tetap memperhatikan tingkat stres dan kondisi fisiologis satwa. Ia menambahkan, proses penyelamatan Jani dilakukan secara hati-hati tanpa menggunakan obat bius karena usianya masih sangat muda sehingga anestesi dinilai berisiko.
Saat ditemukan, Jani berada dalam kondisi sendirian di tengah kebun sawit. Warga melihat bayi orangutan itu tidak banyak bergerak dan tampak kebingungan seolah menunggu induknya.
Setelah dievakuasi, Jani dimasukkan ke kandang dan dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Berdasarkan pemeriksaan awal, usia Jani diperkirakan sekitar lima tahun. Komara menegaskan, pada usia tersebut anak orangutan seharusnya masih hidup bersama induknya.
YIARI menyatakan Jani kini ditempatkan di karantina dan akan menjalani serangkaian pemeriksaan medis lanjutan dalam beberapa hari ke depan, sembari menunggu kondisi stresnya stabil.
Ketua YIARI, Silverius Oscar Unggul, menilai kasus ini kembali menunjukkan tekanan terhadap satwa liar dan habitatnya akibat fragmentasi lanskap. Ia juga mengapresiasi kerja sama cepat antara masyarakat, mitra lapangan, BKSDA, dan tim YIARI, seraya menekankan pentingnya pencegahan dan edukasi agar kejadian serupa tidak berulang.
Silverius mengatakan YIARI bersama BKSDA Kalimantan Barat akan terus memantau kondisi Jani dan melakukan evaluasi lanjutan terkait kemungkinan penyebab terpisahnya individu tersebut dari induknya. Tim juga telah dikerahkan ke lokasi perkebunan sawit untuk mencari keberadaan induk. Jika induk ditemukan, petugas akan mengembalikan Jani kepada induknya dan memindahkannya ke lokasi yang lebih aman.
Namun, apabila induk tidak terlihat, Jani akan menjalani rehabilitasi hingga usianya mencukupi dan dinilai siap untuk dilepasliarkan ke habitat yang lebih layak.

