Militer Amerika Serikat mengklaim telah melancarkan serangan terhadap pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang disebut terlibat dalam serangan mematikan di Yordania. Dalam pernyataannya, pihak AS menyebut serangan terbaru itu mengenai sejumlah target yang dikaitkan dengan kemampuan militer Iran.
Menurut klaim tersebut, pasukan AS “berhasil menyerang fasilitas pengawasan pantai dan pertahanan udara militer Iran, kemampuan maritim, dan lokasi penyimpanan rudal dan drone”.
Komando Pusat AS (CENTCOM) juga menyatakan bahwa “aset militer Amerika juga menargetkan pasukan Korps Garda Revolusi Islam yang melancarkan serangan terhadap anggota militer AS di Yordania pada 17 Juli”.
Di tengah perkembangan ini, keputusan terkait eskalasi konflik terhadap Iran masih memunculkan tanda tanya. Ross Harrison, analis di Middle East Institute di Washington, DC, menilai langkah tersebut kontras dengan posisi politik Presiden Donald Trump yang sebelumnya mencalonkan diri dengan janji mengakhiri “perang abadi” dan “perang bodoh” di Timur Tengah, namun kini terlibat dalam perang yang “tampaknya tidak memiliki logika strategis yang nyata”.
Harrison mengatakan salah satu pertanyaan yang mengemuka di AS adalah sejauh mana pertimbangan politik memengaruhi keputusan pemerintahan saat ini. Ia menyinggung bahwa pada masa jabatan pertama Trump, pemerintahannya terlihat memperhatikan indikator seperti angka jajak pendapat dan pergerakan pasar saham.
Namun, menurut Harrison, masih belum jelas apakah meningkatnya korban jiwa akan memengaruhi perhitungan pengambilan keputusan presiden. Ia juga mengemukakan kemungkinan bahwa Trump kini lebih terdorong oleh cara ia memandang dirinya dalam konteks sejarah ketimbang tekanan politik konvensional, seperti pemilihan paruh waktu atau dampak ekonomi.
“Yang mengkhawatirkan adalah psikologi presiden lebih penting daripada biaya politik,” kata Harrison. Ia menambahkan, beberapa pertanyaan yang lazim diajukan kepada seorang presiden—misalnya bagaimana pemilihan paruh waktu atau kondisi ekonomi memengaruhi keputusan—mungkin tidak lagi menjadi faktor utama. Menurutnya, kondisi itu yang membuat konflik ini “sangat berbahaya”.