Anies Baswedan: Media Perlu Perkuat Kepercayaan Publik terhadap Demokrasi

Anies Baswedan: Media Perlu Perkuat Kepercayaan Publik terhadap Demokrasi

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mendorong pers untuk ikut membangun kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi. Menurut Anies, media dapat berkontribusi agar publik tidak takut menyampaikan pendapat, terutama di tengah derasnya arus informasi di media sosial.

Hal itu disampaikan Anies dalam Peringatan 10 Tahun Forum Pemred di Hotel Raffles Jakarta, Jumat (5/8). Ia menilai demokrasi dapat berjalan baik ketika setiap aspirasi memiliki ruang untuk diperdebatkan dan pada akhirnya mampu menghadirkan kebijakan yang meningkatkan kesejahteraan serta mewujudkan keadilan.

Anies menyinggung peran media sosial yang dinilainya efektif mengurangi rasa takut sehingga rezim otoriter di sejumlah negara dapat tumbang. Namun, ia menekankan bahwa agar demokrasi dapat bertahan, diperlukan unsur lain, yakni kepercayaan (trust) yang dibangun bersama oleh berbagai komponen.

Dalam konteks cita-cita keadilan sosial di Indonesia, Anies menyebut ada dua hal yang perlu dilakukan, yaitu menggulung kolonialisme dan menggelar kesejahteraan serta keadilan. Seiring kolonialisme yang telah hilang, ia menilai upaya menghadirkan keadilan sosial perlu ditempuh melalui proses demokrasi. Karena itu, ia berharap demokrasi tidak justru menjadi celah munculnya konflik.

Anies juga menyoroti dinamika perdebatan dalam demokrasi yang membuka ruang bagi beragam pandangan. Menurutnya, kemunculan pandangan yang berbeda dapat memunculkan polarisasi, tetapi polarisasi tidak selalu bermakna konflik dan perpecahan. Ia menekankan pentingnya membedakan tahapan polarisasi, friksi, konflik, hingga perpecahan.

Ia menjelaskan, perbedaan pandangan kerap terlalu cepat disimpulkan sebagai perpecahan, padahal perpecahan merupakan fase paling akhir. “Polarisasi, friksi, konflik, baru pecah,” kata Anies.

Dalam kesempatan itu, Anies menilai media memiliki peran menjaga agar ruang perdebatan tetap tersedia. Menurut dia, dibutuhkan kesetaraan kesempatan untuk bertukar gagasan dan pikiran demi mencapai tujuan bersama, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Anies berharap media menjaga independensi dan objektivitas untuk membangun kepercayaan publik. Ia menyebut objektivitas sebagai kata kunci, serta menilai Forum Pemred dapat menjadi panduan untuk mendorong objektivitas di media.

Ia membedakan objektivitas dengan sikap subjektif. Menurut Anies, subjektif dapat membawa data, tetapi bersifat parsial, sedangkan objektivitas menyajikan pandangan komprehensif dan memberi ruang setara. Ia menilai objektivitas belakangan kerap menghilang, padahal ketika media menjadi wahana kesetaraan gagasan, persatuan dapat tumbuh.

Anies kemudian mencontohkan upaya membangun Jakarta dengan mengedepankan ruang kesetaraan atau kebebasan. Ia menyinggung keramaian di kawasan Jalan Sudirman dan taman-taman yang menurutnya mempertemukan berbagai lapisan sosial ekonomi. Tujuannya, kata dia, agar kota memberi perasaan kesetaraan sehingga siapa pun dapat menikmati ruang publik tanpa tekanan.

Ia juga membandingkan dengan pola stratifikasi di ruang-ruang yang dikelola sektor privat, seperti pusat perbelanjaan. Anies menyinggung kawasan Bundaran HI yang memiliki beberapa mal, dan menggambarkan adanya pemisahan berdasarkan strata pengunjung.