Ross Harrison, analis di Middle East Institute yang berbasis di Washington, DC, menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini terlibat dalam perang yang “tampaknya tidak memiliki logika strategis yang nyata”, meski sebelumnya mencalonkan diri dengan janji mengakhiri “perang abadi” dan “perang bodoh” di Timur Tengah.
Harrison mengatakan, salah satu pertanyaan yang muncul di Amerika Serikat adalah sejauh mana pertimbangan politik benar-benar memengaruhi pemerintahan Trump. Ia menyampaikan pandangannya itu dalam wawancara dengan Al Jazeera.
Menurut Harrison, pada masa jabatan pertama Trump, pemerintahan terlihat memperhatikan indikator seperti angka jajak pendapat dan pergerakan pasar saham. Namun, ia mempertanyakan apakah meningkatnya jumlah korban jiwa akan memengaruhi perhitungan pengambilan keputusan presiden kali ini.
“Tetapi pertanyaannya di sini adalah: Apakah lebih banyak korban jiwa benar-benar memengaruhi perhitungan pengambilan keputusan presiden? Itu belum jelas saat ini,” kata Harrison.
Ia juga menyarankan bahwa Trump mungkin kini lebih terdorong oleh cara ia memandang dirinya dalam konteks sejarah ketimbang tekanan politik konvensional, seperti pemilihan paruh waktu atau dampak ekonomi.
“Yang mengkhawatirkan adalah psikologi presiden lebih penting daripada biaya politik,” ujar Harrison. Ia menambahkan, sejumlah pertanyaan yang biasanya diajukan kepada seorang presiden—misalnya bagaimana pemilihan paruh waktu atau kondisi ekonomi memengaruhi keputusan—bisa jadi tidak lagi relevan dalam situasi sekarang. Menurutnya, hal itulah yang membuat konflik ini menjadi sangat berbahaya.