Akademisi Soroti Politik Era Digital yang Kian Terbuka dan Defisit Literasi Publik

Akademisi Soroti Politik Era Digital yang Kian Terbuka dan Defisit Literasi Publik

Jakarta—Akademisi sekaligus Ketua Yayasan Universitas Jayabaya, Moestar Putrajaya, menilai wajah politik di era digital semakin terbuka dan tidak lagi menjadi ruang eksklusif bagi kalangan tertentu. Menurutnya, politik kini telah menjadi konsumsi publik yang hadir dalam percakapan sehari-hari, mulai dari warung kopi, grup WhatsApp keluarga, hingga kolom komentar media sosial.

“Politik kini menjadi konsumsi publik, bahkan bahan lelucon dan debat sengit di warung kopi, grup WhatsApp keluarga, hingga kolom komentar media sosial,” ujar Moestar dalam keterangan tertulis, Selasa, 30 Juli 2025.

Meski demikian, ia menilai keterbukaan informasi tersebut tidak selalu diiringi peningkatan pemahaman masyarakat atas isu politik. Moestar menyoroti kecenderungan sebagian orang membentuk opini mengenai persoalan kompleks—seperti demokrasi, kebijakan publik, hingga strategi pertahanan nasional—hanya berdasarkan potongan video pendek, beberapa cuitan, atau tajuk berita yang provokatif.

“Ironisnya, keterbukaan informasi ini tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman,” kata Moestar.

Ia menyebut fenomena itu bukan sekadar menunjukkan kepercayaan diri yang berlebihan, melainkan juga mencerminkan defisit literasi politik yang mengkhawatirkan. Moestar merujuk pada filosofi Yunani kuno yang diajarkan Socrates sebagai contoh sikap yang relevan untuk menghadapi derasnya arus informasi.

“Socrates menggugat pandangan umum, mempertanyakan keyakinan yang mapan, dan dengan jujur membuka ruang untuk berpikir ulang. Ia memilih diam saat tak tahu, dan bertanya saat tak yakin,” ucap Moestar.

Namun, menurutnya, sikap semacam itu kian jarang ditemui. Ia menilai banyak orang justru berbicara dengan penuh keyakinan tanpa dasar, menolak berdialog, dan terjebak dalam debat kusir. Moestar juga menyinggung kecenderungan sebagian pihak mengulang informasi dari lingkaran sosial atau algoritma media sosial yang menguatkan pandangan mereka sendiri.

“Kita hidup di era pasca-kebenaran, di mana perasaan lebih dipercaya daripada fakta, dan opini pribadi mengalahkan argumentasi logis. Kebenaran tak lagi dicari, tapi dibentuk sesuai selera,” tegasnya.

Dalam situasi tersebut, Moestar mengingatkan demokrasi berisiko kehilangan makna. Ia menilai ancaman bukan hanya datang dari tekanan elite, tetapi juga dari “kekacauan dari bawah” ketika wacana publik dipenuhi kebisingan tanpa substansi.

“Politik yang seharusnya menjadi ruang rasional untuk berpikir dan bertindak demi kepentingan bersama justru berubah menjadi arena emosi dan gengsi,” kata Moestar. “Demokrasi pun direduksi menjadi tontonan gaduh yang miskin isi.”

Ia mengajak masyarakat meneladani kerendahan hati intelektual ala Socrates dengan mengakui ketidaktahuan sebagai langkah awal menuju pemahaman. Menurutnya, di tengah kebisingan opini, suara yang jernih dan jujur justru lebih layak didengar.

“Dalam demokrasi, pemilih yang bijak jauh lebih berharga daripada pendebat yang lantang,” pungkas Moestar.