Wakil BGN Minta Pengelola SPPG Tak Reaktif Menanggapi Hoaks soal MBG di Media Sosial

Wakil BGN Minta Pengelola SPPG Tak Reaktif Menanggapi Hoaks soal MBG di Media Sosial

Wakil BGN Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik S Deyang, meminta para pengelola Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) tidak bersikap reaktif dalam menanggapi narasi liar terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang beredar di media sosial.

Nanik mengatakan, sejumlah peristiwa sempat ramai dibicarakan warganet, mulai dari dugaan temuan benda asing dalam makanan hingga isu keracunan massal di beberapa daerah. Namun, setelah ditelusuri, beberapa kejadian disebut tidak sepenuhnya sesuai dengan narasi yang berkembang di media sosial.

Ia mencontohkan, informasi yang viral terkait kasus keracunan di Purworejo sempat dikaitkan dengan MBG. Setelah dilakukan penelusuran, kejadian tersebut disebut berkaitan dengan konsumsi makanan dari hajatan masyarakat, bukan dari program MBG.

Contoh lain, beredar video penolakan MBG di MTS 4 dan MAN 8 di Cilincing, Jakarta Utara. Nanik menyebut, setelah dilakukan pengecekan, tidak ditemukan nama sekolah tersebut di wilayah itu.

Menurut Nanik, sejumlah kejadian memang terjadi di lapangan, tetapi narasinya kerap berkembang berlebihan hingga menjadi hoaks. Karena itu, ia menekankan pentingnya pengelola SPPG untuk memprioritaskan pengawasan ketat terhadap proses pengolahan makanan agar kualitas dan keamanan pangan tetap terjaga.

Ia juga menyoroti peran Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang menjadi garda terdepan sebagai pengawas SPPG. Nanik meminta SPPI tidak hanya menjalankan operasional program dengan baik, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi yang kuat untuk menyampaikan informasi akurat kepada masyarakat serta menangkal misinformasi yang berpotensi memengaruhi kepercayaan publik terhadap program MBG.