Sebuah video yang diunggah akun Kumparan di TikTok menampilkan fasilitas simulator kuda milik Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di Direktorat Polisi Satwa Korsabhara Baharkam. Fasilitas tersebut digunakan sebagai sarana pelatihan bagi personel sebelum melakukan praktik menunggang kuda secara langsung di lapangan.
Dalam video itu terlihat sejumlah perangkat simulator yang dapat menirukan berbagai gerakan kuda, mulai dari berjalan, berlari, hingga melompat rintangan. Simulator juga dilengkapi layar visual yang mensimulasikan medan serta menampilkan informasi kecepatan, sehingga latihan dapat dilakukan secara lebih aman dan terukur.
Konten tersebut kemudian viral dan memicu beragam respons warganet. Sebagian menilai penggunaan teknologi ini sebagai bagian dari modernisasi pelatihan kepolisian. Namun, ada pula yang melontarkan kritik, terutama terkait penggunaan anggaran negara.
Polri menjelaskan terdapat empat unit simulator berkuda yang dibeli pada 2016, dengan harga sekitar Rp1 miliar per unit. Perangkat itu disebut digunakan untuk berbagai kebutuhan pelatihan, seperti latihan dasar menunggang, lompat rintangan, hingga simulasi balap kuda.
Perdebatan yang muncul di ruang digital ini memperlihatkan bagaimana media sosial menjadi arena publik bagi masyarakat untuk menilai kebijakan, fasilitas, serta penggunaan anggaran oleh institusi negara.

