Industri perfilman di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan perkembangan signifikan dalam 15 tahun terakhir dan mulai menempatkan wilayah ini sebagai bagian penting dalam peta perfilman nasional. Para sineas lokal tidak hanya memproduksi karya, tetapi juga memperjuangkan identitas budaya serta menyuarakan isu-isu sosial melalui film.
Filmmaker asal Kupang, Vickram Sombu, mengatakan perhatian pemerintah pusat, khususnya kementerian terkait, mulai bergeser ke wilayah timur Indonesia. Menurutnya, langkah ini dilakukan untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal yang beragam kepada khalayak yang lebih luas. Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam wawancara program Kupang Pagi Ini pada Senin, 30 Maret 2026.
Meski jumlah komunitas film di NTT belum sebanyak di Pulau Jawa, Vickram menilai semangat dan militansi sineas muda di daerah itu sangat kuat. Mereka terus belajar dan berproses untuk menghasilkan karya berkualitas, termasuk mengemas budaya lokal dengan pendekatan yang lebih relevan dengan kondisi sosial saat ini.
Salah satu contoh pendekatan kreatif itu terlihat dari penggunaan simbol budaya “Oko Mama” dalam sebuah film terbaru. Simbol tersebut tidak hanya ditampilkan sebagai identitas budaya, tetapi juga digunakan sebagai medium kritik sosial, antara lain untuk menggambarkan persoalan kekerasan seksual dan perdagangan orang yang masih terjadi di masyarakat.
Dari sisi capaian, sineas NTT meraih prestasi melalui film dokumenter berjudul “CIE” yang berhasil memenangkan Piala Citra pada Festival Film Indonesia tahun lalu. Vickram menyebut penghargaan itu menjadi bukti bahwa kualitas karya sineas daerah mampu bersaing di tingkat nasional.
Namun, ia menilai para filmmaker di NTT masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan akses produksi berskala besar dan minimnya institusi pendidikan formal di bidang sinematografi. Kondisi tersebut membuat banyak sineas belajar secara otodidak, dengan ruang produksi menjadi laboratorium utama untuk mengasah kemampuan.
Dalam hal pendanaan, Vickram mengatakan industri film lokal masih bergantung pada dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Pariwisata. Program bantuan yang tersedia umumnya melalui proses seleksi yang ketat dan kompetitif. Karena itu, ia berharap pemerintah daerah dapat lebih serius melihat potensi ekonomi kreatif ini, termasuk dengan mendorong penyelenggaraan festival film tingkat nasional di NTT.
Ia juga menekankan peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan industri film daerah. Dukungan sederhana seperti menonton dan mengapresiasi karya film lokal dinilai dapat memperkuat ekosistem perfilman NTT sekaligus membantu memperkenalkan identitas budaya kepada generasi masa kini.

