Sebuah video yang beredar di media sosial mengeklaim Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo mengumumkan bantuan sebesar 35.000 dollar untuk umat Kristen dan Katolik di Timor Leste. Dalam narasi yang menyertai unggahan, dana tersebut disebut berasal dari Pemerintah Australia.
Hasil penelusuran menunjukkan klaim itu tidak benar. Video yang beredar merupakan konten manipulatif yang menggabungkan dua rekaman berbeda dan memuat suara yang terindikasi dibuat menggunakan teknologi artificial intelligence (AI). Narasi dalam video tersebut dinyatakan hoaks dan mengarah pada modus penipuan.
Video itu dibagikan sejumlah akun Facebook dan menampilkan potongan siaran presenter SCTV serta cuplikan Kardinal Ignatius Suharyo seolah sedang menyampaikan pengumuman bantuan untuk Timor Leste.
Melalui teknik reverse image search, ditemukan bahwa video tersebut merupakan gabungan dari dua video yang tidak saling terkait. Bagian pertama yang menampilkan presenter SCTV identik dengan unggahan di Vidio.com. Dalam video aslinya, presenter bernama Regina Valeria membawakan berita pada program “Liputan 6 Pagi” mengenai peristiwa kebakaran dan tanah longsor, tanpa ada informasi tentang bantuan bagi umat Kristen dan Katolik di Timor Leste.
Sementara itu, bagian kedua yang menampilkan Kardinal Ignatius Suharyo identik dengan video di kanal YouTube Komsos Katedral Jakarta. Rekaman aslinya adalah momen Kardinal Suharyo menyampaikan pesan dalam Misa Hari Raya Natal Pontifikal 2025 di Gereja Katedral, Jakarta. Dalam acara tersebut, tidak ada pernyataan mengenai bantuan untuk umat Kristen dan Katolik di Timor Leste.
Penelusuran juga menyoroti dugaan manipulasi suara dalam video yang beredar. Berdasarkan pemeriksaan menggunakan Hive Moderation, suara Kardinal Ignatius Suharyo yang disebut mengumumkan bantuan terdeteksi sebagai hasil AI, dengan probabilitas konten AI generatif mencapai 99,1 persen.
Dengan demikian, video yang mengeklaim Kardinal Ignatius Suharyo mengumumkan bantuan 35.000 dollar untuk umat Kristen dan Katolik di Timor Leste merupakan hoaks. Konten tersebut memanipulasi dua video berbeda yang tidak berkaitan, serta menggunakan suara yang terindikasi dihasilkan oleh AI.

