Peredaran video demonstrasi di media sosial kembali menjadi sorotan setelah sejumlah unggahan menampilkan situasi yang tampak mencekam, lengkap dengan teriakan dan kerumunan massa. Namun, tidak semua video yang beredar benar-benar merekam kejadian terbaru. Sebagian di antaranya diketahui merupakan rekaman lama yang kembali dibagikan seolah-olah terjadi pada hari yang sama.
Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) turut menanggapi fenomena tersebut. Pemerintah menegaskan kondisi keamanan masih dalam kendali, sekaligus mengingatkan masyarakat mengenai beredarnya video hoaks terkait demonstrasi.
Fenomena penggunaan ulang video lama juga diamati dalam riset kecil peneliti Monash University Indonesia. Dalam pemantauan percakapan digital selama sepekan di berbagai platform, peneliti menemukan sekitar 197 ribu unggahan terkait isu demonstrasi yang berasal dari puluhan ribu akun. Salah satu temuan yang menonjol adalah banyaknya video dari momen dan waktu berbeda yang kembali diedarkan, lalu diposisikan sebagai gambaran situasi terkini.
Peredaran konten semacam itu menunjukkan bagaimana video dapat menyebar luas dalam hitungan menit, sementara proses verifikasi membutuhkan waktu lebih lama. Akibatnya, informasi yang keliru berpotensi terlanjur tersebar sebelum klarifikasi muncul.
Sejumlah faktor dinilai membuat video bernuansa emosional lebih mudah dipercaya dan dibagikan. Konten yang menampilkan ketegangan kerap memicu rasa cemas, sehingga mendorong orang menyebarkannya sebagai peringatan. Selain itu, publik cenderung lebih mudah menerima informasi yang dianggap sesuai dengan kekhawatiran atau pandangan yang sudah ada, sehingga keinginan untuk memeriksa ulang sumber dan konteks menjadi berkurang.
Di sisi lain, verifikasi juga kerap dianggap tidak praktis. Memastikan tanggal asli video, melacak sumber pertama, atau membandingkan dengan informasi resmi membutuhkan upaya, sementara tombol berbagi hanya memerlukan satu kali klik.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab menyaring informasi tidak hanya berada pada media atau pemerintah, tetapi juga pada setiap pengguna ponsel. Di tengah kondisi yang sensitif, kehati-hatian sebelum membagikan konten dinilai penting agar informasi yang beredar tidak memperkeruh keadaan.