Banyak orang menganggap sunblock dengan Sun Protector Factor (SPF) tinggi otomatis lebih ampuh dan melindungi kulit lebih lama dari sinar matahari. Namun, sejumlah fakta menunjukkan perbedaan perlindungan antartingkat SPF tidak selalu sebesar yang dibayangkan, dan efektivitasnya juga dipengaruhi cara pemakaian.
Di pasaran, skala SPF yang umum ditemukan antara lain SPF 15, 30, 50, 75, hingga 100. Sejumlah penelitian menyebut kadar SPF yang tergolong tinggi adalah yang melebihi angka 50. Meski demikian, selama suatu produk mengandung SPF, tabir surya tetap memberikan manfaat perlindungan, terutama terhadap sinar Ultraviolet B (UVB), salah satu faktor yang dikaitkan dengan risiko kanker kulit.
Perbedaan kemampuan perlindungan UVB pada tiap tingkat SPF cenderung tidak terpaut jauh. SPF 15 disebut mampu melindungi kulit dari sekitar 93% sinar UVB. Sementara itu, SPF 30 melindungi sekitar 97%, SPF 50 menghalangi 98%, SPF 75 menghalangi sekitar 98–99%, dan SPF 100 menghalangi sekitar 99% sinar UVB.
Namun, angka SPF pada dasarnya hanya menggambarkan perlindungan terhadap UVB. Artinya, penggunaan sunblock tidak otomatis berarti kulit terlindungi dari sinar Ultraviolet A (UVA). UVA memang tidak selalu menyebabkan kulit terbakar, tetapi tetap tidak bisa dianggap sepele.
Fakta lain, angka SPF yang tinggi tidak selalu mencerminkan kemampuan yang sama di kondisi nyata. Procter & Gamble (P&G) pernah melakukan penelitian pada produk SPF 100 di lima laboratorium berbeda. Hasilnya, perubahan transmisi cahaya matahari sebesar 1,7% dapat menurunkan kemampuan perlindungan hingga setara SPF 37.
Selain itu, semakin tinggi kadar SPF pada suatu produk, semakin tinggi pula konsentrasi zat kimia penyaring sinar surya di dalamnya. Konsentrasi bahan kimia yang lebih tinggi berpotensi memicu efek samping, seperti alergi pada kulit, kerusakan jaringan kulit, atau gangguan hormon tertentu.
Untuk mendapatkan perlindungan kulit yang lebih optimal, kunci utamanya bukan semata memilih SPF tertinggi, melainkan memastikan jumlah pemakaian memadai. Perlindungan optimal disarankan dengan penggunaan tabir surya sebanyak 2 mg per cm2 luas kulit, atau kira-kira sepanjang ujung jari tengah hingga pergelangan tangan.
Tabir surya juga perlu diaplikasikan ulang setiap dua jam. Meski sudah memakai sunblock, disarankan tidak berlama-lama berada di bawah paparan sinar matahari, terutama menghindari aktivitas luar ruangan pada pukul 11.00 hingga 15.00. Perlindungan tambahan seperti topi, kacamata hitam, dan pakaian berlengan panjang juga dapat membantu menutupi kulit. Selain itu, konsumsi vitamin C secara teratur disebut bermanfaat untuk melawan efek buruk paparan sinar matahari.