Memasuki hari ke-24 perang yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, dinamika konflik mengalami pergeseran. Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan sementara rencana serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, sembari menyebut adanya “negosiasi yang produktif”. Namun, Teheran membantah tegas klaim tersebut dan menilai langkah Washington sebagai bentuk mundur akibat tekanan keseimbangan kekuatan.
Perbedaan pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap dampak perang di Timur Tengah. Krisis yang berkembang dinilai mengancam jalur vital dunia, mulai dari pasokan energi hingga ketersediaan air bersih, terutama jika konflik meluas ke infrastruktur sipil.
Menurut laporan, keputusan Trump menunda serangan dikaitkan dengan peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi, dengan syarat Iran membuka akses di Selat Hormuz. Langkah itu juga disebut dipengaruhi tekanan pasar global dan keinginan meraih hasil diplomatik cepat. Bahkan, hanya dengan sinyal penundaan serangan, harga minyak mentah Brent dilaporkan turun lebih dari 13 persen.
Dalam perkembangan lain yang menunjukkan kompleksitas kebijakan energi AS, Washington dilaporkan mengizinkan sementara penjualan minyak Iran yang tersimpan di kapal untuk membantu menstabilkan harga global. Kebijakan ini dinilai kontras dengan pendekatan tekanan yang selama ini diarahkan terhadap Teheran.
Di balik layar, aktivitas diplomasi disebut tetap berjalan melalui jalur tidak langsung. Sejumlah negara seperti Turki, Mesir, dan Pakistan dilaporkan berperan menyampaikan pesan antara kedua pihak.
Iran, di sisi lain, menegaskan tidak ada negosiasi dengan AS. Pihak Teheran menilai pernyataan Trump lebih bertujuan menekan harga energi global. Sumber keamanan Iran menyebut penundaan serangan terjadi setelah Washington menyadari risiko serangan balasan yang lebih luas. Sejumlah pejabat Iran juga menyatakan bahwa dalam kondisi perang, negosiasi dianggap tidak relevan dan pihak lawan dinilai hanya memahami kekuatan militer.
Strategi tekanan Iran terlihat bertumpu pada posisi geopolitik Selat Hormuz. Data yang dikutip menyebut lalu lintas di jalur tersebut—yang dilalui sekitar seperlima pasokan energi dunia—turun drastis hingga sekitar 95 persen. Iran juga mengancam akan menanam ranjau laut di kawasan Teluk jika wilayahnya diserang, yang berpotensi memicu krisis regional lebih besar.
Selain ancaman terhadap energi, perhatian juga tertuju pada risiko terhadap infrastruktur air, khususnya fasilitas desalinasi di negara-negara Teluk. Jika fasilitas ini terdampak, situasi dapat berkembang menjadi krisis kemanusiaan yang lebih luas.
Meski AS menunda serangan terhadap sektor energi Iran, perang di lapangan dilaporkan tidak berhenti. Israel disebut tetap melanjutkan operasi militer intensif dan bersiap menghadapi konflik berkepanjangan. Militer Israel dilaporkan melancarkan serangan baru ke sejumlah wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran, menandakan bahwa jeda dari Washington tidak serta-merta menurunkan eskalasi.
Sejumlah analis menilai Israel justru diuntungkan oleh ancaman AS terhadap sektor energi Iran karena dapat memperluas konflik dan melibatkan lebih banyak pihak, sehingga mengurangi tekanan langsung terhadap Tel Aviv.
Konflik ini juga memicu respons internasional karena dampaknya terhadap pasokan minyak dunia. Badan energi internasional dilaporkan mencatat kehilangan pasokan hingga 11 juta barel per hari, yang disebut sebagai salah satu krisis energi terburuk dalam sejarah modern.
Sejumlah negara besar menyampaikan peringatan. China menyoroti risiko kekacauan global karena ketergantungan tinggi pada minyak Timur Tengah. Rusia memperingatkan bahaya serangan terhadap fasilitas sensitif yang dapat memicu krisis lingkungan dan nuklir. Oman dilaporkan berupaya menjadi mediator untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Dengan adanya jeda lima hari yang diumumkan AS, terdapat tiga kemungkinan arah situasi dalam waktu dekat. Pertama, deeskalasi sementara jika mediasi menghasilkan kompromi, seperti penghentian serangan terhadap sektor energi dan pembukaan terbatas jalur pelayaran. Kedua, eskalasi kembali apabila diplomasi gagal atau terjadi insiden militer yang memicu serangan baru terhadap infrastruktur vital. Ketiga, perang jangka panjang, di mana sektor energi mungkin dihindari karena tekanan global, tetapi konflik militer dan intelijen antara Iran dan Israel berlanjut dalam waktu lama.
Secara keseluruhan, situasi dinilai masih sangat dinamis. Jeda lima hari dari Washington menjadi titik krusial yang dapat menentukan apakah konflik bergerak menuju penurunan ketegangan atau justru semakin meluas.

