Trump Ingin Percepat Produksi Minyak Venezuela, Ajak Perusahaan Energi AS Terlibat

Trump Ingin Percepat Produksi Minyak Venezuela, Ajak Perusahaan Energi AS Terlibat

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana menggandeng perusahaan energi AS untuk mempercepat peningkatan produksi minyak Venezuela. Langkah ini disebut sebagai bagian dari rencana pembangunan ulang industri minyak Venezuela yang diperkirakan membutuhkan biaya hingga USD 100 miliar.

Menurut laporan Bloomberg pada Minggu (25/1), pembahasan dilakukan dengan produsen minyak Chevron Corp. Sejumlah kontraktor ladang minyak asal AS seperti Baker Hughes Co. dan Halliburton Co. juga disebut terlibat, bersama perusahaan asal Prancis yang terdaftar di Bursa Efek New York, Schlumberger atau SLB Ltd.

Dengan keterlibatan perusahaan-perusahaan tersebut, biaya pembangunan ulang industri minyak Venezuela diperkirakan dapat ditekan agar lebih kecil dari USD 100 miliar. Baker Hughes, Halliburton, dan SLB disebut akan berfokus pada perbaikan atau penggantian peralatan produksi di Venezuela yang rusak atau sudah usang.

Sementara itu, Chevron disebut akan memaksimalkan aset yang sudah ada di Venezuela terlebih dahulu. Perusahaan itu menargetkan peningkatan produksi hingga 50% dari usaha patungannya dengan perusahaan minyak Venezuela, PDVSA, dalam 18 hingga 24 bulan ke depan.

Saat ini, usaha patungan tersebut memproduksi sekitar 240 ribu barel per hari. Chevron juga menyatakan siap membantu Venezuela membangun masa depan yang lebih baik sekaligus memperkuat ketahanan energi dan keamanan kawasan.

Percepatan ini dirancang untuk memenuhi tujuan Trump meningkatkan produksi minyak Venezuela segera setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Trump menargetkan produksi minyak Venezuela bisa kembali mendekati puncak produksi pada 1970, sekitar 3,75 juta barel per hari, ketika negara itu mengoperasikan sekitar 75 rig pengeboran. Saat ini, produksi minyak Venezuela masih berada di bawah 1 juta barel per hari.

“Penjualan minyak Venezuela akan menguntungkan kedua negara dan menurunkan harga minyak lebih jauh. Kami memproduksi minyak lebih banyak daripada kapan pun dalam sejarah negara kami. Jika ditambah Venezuela, itu menjadi bagian besar dari pasar,” kata Trump di Air Force One, Kamis (22/1).

Rencana peningkatan pasokan minyak Venezuela dalam waktu dekat dinilai sejalan dengan sejumlah prioritas Trump. Ia memandang dominasi energi AS sebagai alat pengaruh global sekaligus modal politik domestik. Meski tambahan pasokan dari Venezuela disebut akan terbatas, langkah itu dinilai dapat membantu menahan harga minyak dan bensin serta memberi ruang bagi AS untuk mengambil langkah terhadap Iran tanpa mengguncang pasar.

Seorang pejabat pemerintahan Trump mengatakan, masuknya peralatan dan teknologi perminyakan mutakhir AS ke Venezuela—yang industri minyaknya terkena sanksi selama bertahun-tahun—dapat menghidupkan kembali sumur-sumur lama dan menghasilkan produksi baru dalam hitungan bulan.