Nilai ujian kelulusan SMA yang tinggi dinilai belum tentu mencerminkan kualitas pendidikan yang sebenarnya. Rata-rata skor suatu daerah dapat terlihat mengesankan, namun angka tersebut bisa dipengaruhi strategi siswa dalam memilih mata pelajaran yang dianggap lebih mudah memperoleh nilai baik, sementara mata pelajaran dengan tingkat diferensiasi lebih tinggi—seperti bahasa asing atau rumpun sains—justru diikuti lebih sedikit peserta.
Kondisi ini membuat perbandingan capaian antardaerah berisiko keliru apabila hanya bertumpu pada peringkat nilai rata-rata tanpa disertai data komposisi pilihan mata pelajaran. Pada 2025, misalnya, Nghe An mencatat skor rata-rata 6,52 dan berada di peringkat pertama, disusul Ha Tinh 6,48 di peringkat kedua. Thanh Hoa berada di peringkat ketujuh dengan 6,31, sementara Kota Ho Chi Minh mencatat 6,29 dan menempati peringkat kedelapan. Jika dilihat sekilas, peringkat tersebut dapat memunculkan anggapan bahwa daerah dengan posisi lebih tinggi otomatis memiliki kualitas pendidikan lebih baik. Namun, Kota Ho Chi Minh disebut memiliki persentase siswa yang lebih tinggi memilih Bahasa Inggris dan mata pelajaran sains, yang berarti menghadapi ujian yang lebih menantang dan beragam. Dalam kerangka ini, skor dinilai baru bermakna bila dibaca bersamaan dengan rasio pemilihan mata pelajaran.
Selain memengaruhi cara publik membaca hasil ujian, pola pemilihan mata pelajaran juga dinilai berdampak pada tujuan pendidikan. Program pendidikan umum yang baru menargetkan pengembangan kualitas dan kompetensi secara komprehensif, namun dalam praktiknya muncul kecenderungan “memilih yang aman untuk lulus”. Akibatnya, siswa cenderung menghindari mata pelajaran yang sulit, sementara sekolah dan daerah berpotensi terdorong mengejar capaian nilai, sehingga arah pendidikan dapat menyimpang sejak tahap pemilihan mata pelajaran.
Ketimpangan pilihan mata pelajaran telah terlihat dalam data yang dipaparkan pada konferensi ilmiah pendidikan STEM pada 21 Maret. Kementerian Pendidikan dan Pelatihan menyampaikan bahwa sekitar 60–65% siswa SMA memilih kelompok ilmu sosial. Ketidakseimbangan yang berlangsung lama dinilai berisiko menimbulkan kekurangan sumber daya manusia berkualitas di bidang sains, teknologi, dan teknik, yang tidak sejalan dengan kebutuhan era yang berkembang cepat.
Dalam konteks tersebut, pengungkapan persentase pemilihan mata pelajaran secara terbuka dipandang bukan untuk menyudutkan daerah atau sekolah, melainkan untuk menghadirkan gambaran yang lebih jujur tentang perilaku belajar siswa. Data ini dapat membantu membaca tren pilihan, menilai kualitas pendidikan secara lebih akurat, dan menjadi “cermin” yang lebih informatif dibanding sekadar transkrip nilai.
Transparansi juga disebut dapat memperkuat dasar pengambilan kebijakan. Dengan data yang terbuka, masyarakat dapat memahami hasil ujian secara lebih utuh, sementara pengelola pendidikan memperoleh pijakan yang lebih kuat untuk menyesuaikan kebijakan. Di sisi lain, daerah didorong mengevaluasi strategi pendidikan agar tidak semata mengejar prestasi nilai, melainkan melakukan perbaikan dari dalam.
Pada level yang lebih luas, rasio pemilihan mata pelajaran dinilai dapat menjadi alat prediksi. Jika hanya sedikit siswa memilih bahasa asing, proses pengajaran, pembelajaran, dan pengujian perlu ditinjau. Jika mata pelajaran sains jarang dipilih, hal itu dapat menjadi sinyal peringatan bagi ketersediaan tenaga kerja STEM di masa depan. Sebaliknya, bila siswa terlalu terkonsentrasi pada satu kelompok mata pelajaran, risiko ketidakseimbangan tenaga kerja juga meningkat.
Karena itu, publikasi tahunan persentase siswa yang memilih mata pelajaran pilihan di tiap daerah diusulkan dilakukan bersamaan dengan pengumuman hasil ujian, disertai analisis lebih rinci hingga tingkat daerah dan sekolah. Langkah ini dinilai penting untuk menjawab secara lebih jujur apakah pendidikan benar-benar berkembang atau sekadar menampilkan nilai rata-rata yang terlihat tinggi.
Sementara itu, struktur pilihan mata pelajaran untuk ujian tahun 2026 yang diumumkan Kementerian Pendidikan dan Pelatihan pada 6 Mei menunjukkan dominasi kelompok ilmu sosial masih kuat. Dibanding 2025, sejarah meningkat dari 42,85% menjadi 46,64%. Geografi tetap berada di posisi atas namun menurun dari 42,4% menjadi 36,67%. Pendidikan ekonomi dan hukum tercatat sedikit naik dari 21,22% menjadi 23,27%.
Dalam kelompok sains dan teknologi, fisika naik dari 30,4% menjadi 31,84%. Teknologi pertanian meningkat dari 1,88% menjadi 2,54%, teknologi industri dari 0,21% menjadi 0,6%, dan ilmu komputer dari 0,66% menjadi 1,53%. Sebaliknya, kimia turun dari 21,17% menjadi 20,75% dan biologi turun dari 6,24% menjadi 5,74%. Bahasa asing juga menurun signifikan dari 31,32% menjadi 28,39%.