Rupiah Melemah ke 17.802 per Dolar AS, BI Naikkan Suku Bunga dan MSCI Soroti Transparansi Pasar

Rupiah Melemah ke 17.802 per Dolar AS, BI Naikkan Suku Bunga dan MSCI Soroti Transparansi Pasar

Nilai tukar Rupiah melemah pada perdagangan Jumat, ditutup turun 0,58% ke level 17.801,9 per Dolar AS. Pada hari yang sama, kurs acuan JISDOR Bank Indonesia (BI) ditetapkan di Rp17.826 per Dolar AS, sekitar Rp24 lebih tinggi dibanding harga pasar.

Pergerakan USD/IDR tercatat naik 101,9 poin menjadi 17.802 setelah bergerak di rentang 17.705 hingga 17.867,6. Pasangan ini dibuka di 17.780, dibanding penutupan sebelumnya di 17.700.

Pelemahan Rupiah terjadi seiring tekanan yang juga melanda mayoritas mata uang Asia. Ringgit Malaysia turun 0,43% terhadap Dolar AS, Peso Filipina melemah 0,33%, Baht Thailand turun 0,24%, Rupee India 0,09%, dan Dolar Taiwan 0,03%. Won Korea Selatan menjadi pengecualian dengan menguat 0,77%.

Dari sisi domestik, BI pada Kamis menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%, sesuai konsensus pasar. Suku bunga Deposit Facility dinaikkan menjadi 4,75% dan Lending Facility menjadi 6,50%. Data BI juga menunjukkan pertumbuhan kredit pada Mei meningkat menjadi 11,51% secara tahunan, dari 9,98% pada periode sebelumnya.

Selain menaikkan suku bunga, BI kembali memperketat transaksi valuta asing yang mulai berlaku 1 Juli. Batas pembelian valas tunai terhadap Rupiah tanpa dokumen pendukung diturunkan menjadi US$10.000 dari US$25.000 per pelaku setiap bulan. Sementara untuk transfer valas ke luar negeri, dokumen pendukung akan diwajibkan untuk transaksi di atas US$25.000, lebih rendah dari ketentuan sebelumnya US$50.000.

Meski demikian, tekanan eksternal dinilai belum mereda. Bank sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%–3,75%, namun menaikkan proyeksi inflasi PCE 2026 menjadi 3,6% dari 2,7%. Proyeksi median suku bunga akhir tahun juga bergeser ke 3,8% dari 3,4%. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmen mengembalikan inflasi ke target 2% tanpa memberikan petunjuk mengenai keputusan berikutnya.

Data ekonomi AS turut memperkuat nada kebijakan yang cenderung ketat. Klaim tunjangan pengangguran tercatat turun menjadi 226.000, sementara Indeks Manufaktur The Fed Philadelphia naik ke 10,3 pada Juni dari -0,4.

Di dalam negeri, sentimen pasar juga dibayangi hasil tinjauan aksesibilitas pasar oleh MSCI. Lembaga tersebut menurunkan penilaian arus informasi Indonesia dari “positif” menjadi “negatif”. MSCI menyoroti terbatasnya transparansi struktur kepemilikan saham serta adanya perilaku perdagangan terkoordinasi yang dinilai mengganggu pembentukan harga. MSCI juga kembali mencatat belum tersedianya pasar Rupiah offshore yang efisien dan masih adanya pembatasan di pasar valas domestik.

Di sisi lain, pergerakan harga minyak memberikan sedikit ruang bagi Rupiah setelah bertahan di bawah US$80 per barel. Minyak WTI kontrak Juli naik 0,90% ke US$77,29, sedangkan Brent kontrak Agustus turun 0,64% ke US$79,34.

Situasi di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz masih menjadi perhatian. Sejumlah tanker dilaporkan mulai kembali melintasi kawasan tersebut, namun perundingan lanjutan AS–Iran pada Jumat dibatalkan dan arus pelayaran disebut belum pulih sepenuhnya. Aktivitas pasar global juga lebih tipis karena pasar saham dan obligasi AS tutup untuk memperingati Juneteenth.