Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dinilai mengubah arah diplomasi yang semula membuka ruang negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait program nuklir Teheran. Alih-alih mendorong penyelesaian damai, Israel justru disebut menyeret Washington ke dalam konfrontasi langsung dengan Iran, disertai dukungan militer terbuka dari AS.
Dalam pandangan penulis, Presiden AS saat itu, Donald Trump, sebenarnya memiliki peluang mencapai kesepakatan strategis dengan Iran: menjaga program nuklir Teheran tetap berada di jalur damai sebagaimana diklaim pemerintah Iran, dengan imbalan akses investasi dan keuntungan ekonomi besar, termasuk peluang proyek bernilai triliunan dolar AS bagi perusahaan-perusahaan Amerika. Dari skema semacam itu, hubungan kerja sama yang saling menguntungkan disebut berpotensi terbentuk.
Namun gagasan tersebut dinilai tidak sejalan dengan doktrin keamanan Israel. Israel selama ini menolak kemungkinan adanya negara Arab atau Islam yang memiliki program nuklir, sekalipun dalam kapasitas sipil. Kekhawatiran utamanya, program sipil dapat menjadi fondasi pengetahuan ilmiah dan teknologi yang sewaktu-waktu bertransformasi menjadi proyek senjata nuklir. Pakistan disebut sebagai contoh bagaimana kemampuan nuklir dapat berkembang dan memunculkan keseimbangan daya gentar (deterrence) yang berpotensi mengganggu dominasi Israel di kawasan, yang selama ini bertumpu pada keunggulan teknologi dan militer.
Penulis juga menilai Israel menyadari posisinya di Timur Tengah bertahan terutama melalui kekuatan, bukan penerimaan masyarakat sekitar. Meski telah melakukan normalisasi dengan sejumlah negara Arab, Israel tetap dipandang sebagai “tubuh asing” di kawasan. Karena itu, kekuatan militer dan keunggulan teknologi dipandang sebagai penopang utama kelangsungan hidupnya; jika keduanya goyah, eksistensinya dinilai ikut dipertaruhkan. Motif serupa disebut menjadi latar belakang pengeboman Israel terhadap Reaktor Nuklir Osirak dekat Baghdad pada 1981, dan dinilai berulang dalam upaya menghentikan program nuklir Iran, baik melalui penghancuran maupun pembongkaran.
Konflik terbaru disebut dimulai ketika Israel melancarkan serangan ke Iran pada Jumat, 13 Juni. Serangan itu terjadi saat suasana diplomatik dinilai mengarah ke dialog, dengan Iran disebut bersiap menyambut putaran baru negosiasi dengan AS di Oman, dua hari setelah serangan. Serangan tersebut, menurut tulisan ini, memanfaatkan kebingungan akibat pernyataan-pernyataan Trump yang dianggap meninabobokan Iran.
Dalam beberapa hari setelah pertempuran pecah, posisi Israel disebut semakin mengeras. Netanyahu secara terbuka menyatakan tiga tujuan perang: menghancurkan program nuklir Iran, melumpuhkan sistem rudal Iran, dan mengubah rezim pemerintahan Iran sebagai bagian dari rancang ulang tatanan Timur Tengah. Sejalan dengan itu, operasi militer Israel disebut meluas menyasar fasilitas militer, sistem rudal, infrastruktur ekonomi seperti ladang gas Pars, hingga area sipil seperti kantor penyiaran nasional Iran serta fasilitas yang terkait program nuklir.
Posisi AS menjadi sorotan penting. Pada Selasa, 17 Juni, Trump menyatakan tidak menginginkan sekadar gencatan senjata, melainkan “akhir yang nyata” dari konflik Israel-Iran, dan menegaskan AS menginginkan “penyerahan total dan tanpa syarat” dari Iran. Pernyataan itu disebut sejalan dengan pengerahan militer AS ke kawasan, termasuk kapal induk, jet tempur, pesawat pengisi bahan bakar di udara, serta pembom strategis B-2 dan B-52 yang dilengkapi bom penembus bunker.
Langkah tersebut dinilai mengindikasikan rencana serius untuk menyerang fasilitas nuklir Fordow yang berada jauh di bawah pegunungan dan disebut tidak mungkin dijangkau militer Israel tanpa bantuan langsung AS. Meski demikian, tulisan ini menilai Israel—betapapun dominan dan agresif—tidak akan mampu merancang ulang peta politik kawasan seperti yang dicita-citakan Netanyahu tanpa peran langsung AS, terutama dalam upaya mengganti pemerintahan Iran atau memaksa perubahan orientasi politiknya.
Namun, penulis menekankan tidak ada jaminan Washington akan berhasil sepenuhnya. Iran digambarkan bukan negara kecil dan lemah, dengan luas 1,7 juta kilometer persegi, populasi sekitar 90 juta jiwa, serta kekuatan militer dan ekonomi yang cukup besar. Iran juga dinilai jauh lebih kompleks dibandingkan Irak atau Afghanistan, yang disebut menjadi pelajaran pahit bagi ambisi militer Amerika.
Serangan Israel pada pertengahan Juni disebut diyakini mendapat restu awal dari Trump, dengan perkiraan tekanan militer akan memaksa Iran tunduk di meja perundingan dan bersedia meninggalkan pengayaan uranium atau program nuklir sesuai tuntutan AS dan Israel. Namun kalkulasi itu dinilai meleset: serangan pertama disebut gagal mencapai tujuan, Iran tetap teguh, menyerap gempuran awal, lalu membalas dengan serangan rudal ke berbagai titik penting di wilayah Israel. Situasi ini disebut membuat kondisi di lapangan semakin rumit, baik bagi Israel maupun AS.
Di tengah perang saling balas dan ancaman eskalasi, tulisan ini mengajukan tiga skenario besar yang mungkin terjadi.
Pertama, Iran kembali ke meja perundingan dengan menerima syarat AS. Dalam skenario ini, Iran memilih jalur diplomasi untuk menghindari gempuran besar-besaran AS yang dapat berdampak militer dan ekonomi serius. Iran, yang telah lama hidup di bawah sanksi ketat, disebut mungkin memilih menghindari kehancuran total dan menerima syarat AS dan Israel. Konsekuensinya, Iran dinilai akan mundur dari ambisi regionalnya dan membuka jalan bagi rekonstruksi politik Timur Tengah sebagaimana diinginkan Netanyahu.
Kedua, kekalahan militer Iran dan penyerahan diri. Jika AS terlibat penuh secara langsung dan komunitas internasional tetap pasif—tanpa intervensi kekuatan besar lain seperti China atau Rusia—maka kemungkinan kekalahan militer Iran disebut terbuka lebar. Dalam kondisi terisolasi, Iran diperkirakan menghadapi serangan udara dan rudal skala masif tanpa bantuan luar. Kekalahan semacam itu, menurut tulisan ini, bisa memicu perubahan rezim dan merombak struktur kekuasaan di kawasan.
Ketiga, perang regional yang melibatkan banyak pihak. Jika Iran bertahan dan menganggap perang sebagai pertarungan eksistensial, konflik disebut berpotensi meluas. Sejumlah aktor diperkirakan dapat terlibat, termasuk Hizbullah di Lebanon yang bisa membuka front utara melawan Israel; Yaman yang dinilai punya posisi strategis di Bab al-Mandeb untuk mengganggu pelayaran dan logistik militer AS; serta pasukan mobilisasi rakyat (Hashd al-Shaabi) di Irak yang disebut memiliki kedekatan geografis dan sumber daya serta catatan serangan drone terhadap Israel.
Tulisan ini juga menyebut kemungkinan China dan Rusia memanfaatkan situasi untuk menguras fokus AS, dengan dukungan terhadap Iran menjadi alat tawar dalam isu global lain—Ukraina bagi Rusia dan Taiwan bagi China. Selain itu, Turki dan Pakistan disebut tidak berkepentingan terhadap kehancuran Iran karena risiko kekacauan yang dapat meluas ke wilayah mereka. Israel juga disebut lama menyatakan kekhawatiran terhadap kekuatan nuklir Pakistan dan pengaruh Turki di Suriah; Netanyahu bahkan disebut pernah menyatakan bahwa setelah Iran, program nuklir Pakistan akan menjadi perhatian Israel berikutnya.
Jika Iran tetap teguh dan AS terlibat secara militer, penulis menilai arah konflik hampir pasti menuju perang regional berskala besar. Dampaknya diperkirakan meluas ke negara-negara seperti Irak, Suriah, Yordania, Lebanon, Yaman, serta negara-negara Teluk yang berbatasan langsung dengan Iran.
Perang regional juga disebut berpotensi membawa dampak global pada keamanan dan ekonomi, mengingat banyaknya aktor dengan kepentingan yang kompleks. Risiko paling nyata yang disorot adalah kemungkinan ditutupnya Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz—dua jalur pelayaran penting yang disebut menyuplai sekitar 30% minyak dunia dan 25% gas alam global.
Dalam penutupnya, tulisan ini menggambarkan Israel sejak berdiri pada 1948 berfungsi sebagai pangkalan militer dan simbol kekuatan Barat di jantung dunia Arab, dengan keberlangsungan yang didesain bertumpu pada keunggulan militer sementara negara-negara Arab berada dalam posisi lemah. Namun kini, dinamika tersebut dinilai meluas ke kawasan Muslim yang lebih luas—dari Iran hingga Turki dan Pakistan. Jika perang regional benar-benar meletus, dampaknya terhadap masa depan kawasan dan rakyatnya disebut akan sangat besar.
Penulis menilai kekalahan Iran—jika terjadi—tidak akan menghapus eksistensinya sebagai negara tua dengan posisi penting dalam sejarah dan peradaban Asia Barat. Namun pertanyaan yang diajukan adalah apa yang akan terjadi pada eksistensi Israel jika gagal atau kalah dalam perang ini.

