N’Djamena, Chad—Krisis pengungsi yang terus membesar memberi tekanan tambahan pada sistem pendidikan Chad yang sudah kekurangan pendanaan. Dalam situasi ini, sebuah inisiatif riset yang dipimpin War Child dan didanai GPE KIX menelaah perluasan penggunaan teknologi pendidikan, termasuk program Can’t Wait to Learn, untuk menjaga keberlanjutan belajar anak-anak yang terdampak konflik dan pengungsian.
Pemerintah Chad, meski menghadapi tantangan sosial-ekonomi seperti kemiskinan, malnutrisi, dan ketidakamanan pangan, menampung sekitar 1,3 juta orang yang dipaksa mengungsi. Jumlah tersebut mencakup 1.025.640 pengungsi dari Sudan, Republik Afrika Tengah, Kamerun, dan Nigeria. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan konflik yang meletus di Sudan pada 15 April 2023 akan memicu kedatangan 600.000 pengungsi Sudan tambahan ke Chad hingga akhir 2023, memperberat beban layanan publik, termasuk pendidikan.
Anak-anak disebut mencakup 54% dari populasi pengungsi paksa di Chad. Kondisi ini menambah tekanan pada sekolah-sekolah yang menghadapi kelas padat dan kekurangan guru berkualifikasi, sementara pendanaan sektor pendidikan terbatas. Akibatnya, ratusan ribu anak—termasuk pengungsi—memiliki akses pendidikan yang terbatas.
“Ketika Anda memiliki populasi pengungsi yang besar, dengan sekitar 750.000 anak mengetuk pintu negara Anda, [Anda bisa] memahami kekhawatiran yang dirasakan hari ini,” kata Saeed Farah, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Promosi Kewarganegaraan Chad.
Untuk merespons tantangan tersebut, War Child—dengan dukungan GPE KIX, sebuah inisiatif kolaboratif antara Global Partnership for Education (GPE) dan International Development Research Centre (Kanada)—melakukan riset tentang strategi memperluas teknologi pendidikan di Chad, Sudan, dan Uganda. Fokusnya adalah bagaimana program seperti Can’t Wait to Learn dapat ditingkatkan skalanya guna memperbaiki kualitas pembelajaran bagi anak pengungsi dan anak yang mengungsi di dalam negeri.
Program Can’t Wait to Learn diluncurkan War Child di Chad pada 2019. Program ini menghadirkan platform pembelajaran melalui tablet dan perangkat seluler, mengikuti kurikulum nasional, dan dirancang untuk kelas 1–3 bagi siswa usia 5–14 tahun. Model ini ditujukan agar anak pengungsi dan anak terdampak perpindahan dapat melanjutkan belajar di sekolah maupun di rumah sesuai kecepatan masing-masing, sekaligus memperoleh kredit dalam sistem pendidikan negara penerima untuk memudahkan transisi ke sekolah formal.
“Program Can’t Wait to Learn dirancang untuk membantu anak-anak dalam situasi konflik. Program ini pertama-tama dirancang oleh anak-anak itu sendiri, dengan mengambil dari kehidupan sehari-hari mereka,” ujar Emmanuel Uwamungu, Project Lead Can’t Wait to Learn di Jesuit Refugee Service.
Salah satu ciri program ini adalah pelibatan pelajar lokal dalam proses pengembangan konten. War Child menggelar lokakarya di komunitas setempat dengan sesi seni, mendorong anak-anak membagikan cerita dan gagasan bersama seniman lokal. Narasi dan desain dari anak-anak tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam materi pembelajaran, sehingga konten lebih dekat dengan konteks kehidupan mereka. Program ini juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan dasar numerasi dan literasi melalui tahapan level yang meningkat seiring penguasaan konsep.
Strategi Pendidikan Pengungsi Chad untuk 2018–2019 mencatat Can’t Wait to Learn sebagai salah satu capaian penting di sektor pendidikan. Seorang orang tua, Nour Haroun Babakar, menilai dampaknya terlihat pada kehadiran anak di kelas. “Anda bisa melihat dampak program ini pada para siswa ... Mereka tidak pernah absen, terutama pada hari pembelajaran berbasis perangkat,” ujarnya.
Dalam risetnya, GPE KIX menekankan perlunya mengintegrasikan peran berbagai pemangku kepentingan—mulai dari pengasuh, komunitas, guru, institusi akademik, organisasi pelaksana, hingga pembuat kebijakan—agar penyediaan program teknologi pendidikan berkelanjutan dan berbasis bukti. Di Chad, riset menghasilkan analisis dan perangkat untuk mendukung adopsi Can’t Wait to Learn oleh mitra serta memandu keberlanjutan dampaknya dalam skala lebih luas. Metode yang digunakan mencakup wawancara dengan pihak pemerintah dan perusahaan swasta, analisis dokumen organisasi, serta analisis jejaring sosial di antara pelaku teknologi.
Untuk mengukur hasil belajar, War Child dan GPE KIX menggunakan International Competency Assessment of Numeracy terhadap lebih dari 800 siswa di 20 sekolah pada tiga kamp pengungsi di Chad—Djabal, Gos Amir, dan Goz Beida. Di 11 sekolah, Can’t Wait to Learn menyumbang lebih dari setengah pelajaran numerasi setiap pekan. Sementara itu, 9 sekolah lainnya melanjutkan pembelajaran seperti sebelumnya.
Hasilnya menunjukkan bahwa pada periode November 2021 hingga Maret 2022, anak-anak yang mengikuti Can’t Wait to Learn memperlihatkan capaian belajar yang lebih baik dibanding kelompok pembanding. Anak yang menggunakan program tersebut disebut belajar 50% lebih banyak daripada yang tidak menggunakannya. Temuan lain menyebutkan anak perempuan belajar empat kali lebih banyak dibanding anak laki-laki; meski memulai dengan kemampuan numerasi lebih rendah, anak perempuan dapat mengejar ketertinggalan dalam 4 hingga 4,5 bulan.
Temuan ini dinilai penting mengingat tingkat learning poverty di Chad—ketidakmampuan membaca dan memahami teks sederhana pada usia 10 tahun—disebut mencapai 98% bagi anak yang menyelesaikan sekolah dasar. Riset tersebut menyimpulkan bahwa dengan dukungan yang tepat, inisiatif teknologi seperti Can’t Wait to Learn berpotensi membantu memperbaiki hasil belajar anak pengungsi sekaligus memperkecil kesenjangan capaian pendidikan berbasis gender.
Dalam konteks perluasan program, Jasmine Turner dari War Child menyoroti bahwa strategi peningkatan skala tidak bisa disamaratakan. Menurutnya, ada konteks di mana pemerintah lebih siap mengadopsi teknologi pendidikan, sementara di tempat lain organisasi nonpemerintah dan perusahaan swasta lebih mampu mendorong perluasan. Di Chad, Kementerian Pendidikan disebut telah mendukung riset War Child dan mengimbau organisasi nonpemerintah untuk membantu memperluas penerapan Can’t Wait to Learn di negara tersebut.