Survei Kepuasan Publik dan Pelajaran dari Era Jokowi bagi Pemerintahan Prabowo

Survei Kepuasan Publik dan Pelajaran dari Era Jokowi bagi Pemerintahan Prabowo

Pemerintahan dalam demokrasi konstitusional tidak bisa selamanya bertumpu pada kemenangan pemilu. Pemilu memberi mandat untuk memerintah, tetapi kualitas penyelenggaraan pemerintahan yang menentukan apakah mandat itu terus diterima masyarakat.

Di antara dua pemilu, salah satu cara membaca hubungan pemerintah dan warga adalah melalui survei opini publik. Survei tidak menentukan benar atau salahnya pemerintahan, namun merekam bagaimana masyarakat memaknai kebijakan yang mereka alami. Karena itu, survei dinilai tidak semestinya diperlakukan sebagai perlombaan popularitas semata, sebab di balik angka terdapat pengalaman sosial warga terkait ekonomi, pelayanan publik, penegakan hukum, dan rasa aman.

Dalam kerangka tersebut, hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 5–19 Juli 2026 menjadi salah satu potret persepsi publik. Dengan 749 responden dan margin of error sekitar 3,7 persen, SMRC mencatat tingkat kepuasan terhadap Presiden Prabowo Subianto berada pada 51,1 persen. Angka ini menurun dibandingkan 81,2 persen pada November 2025 dan 66,4 persen pada akhir Februari hingga awal Maret 2026.

SMRC juga mencatat persepsi atas kondisi ekonomi sebagai faktor yang paling banyak memengaruhi penurunan kepuasan, disusul situasi politik dan penegakan hukum. Namun, temuan ini dipandang belum bisa dibaca sebagai penilaian final karena pemerintahan masih berada pada fase awal dan sejumlah program prioritas masih berjalan, sementara hasilnya memerlukan waktu untuk dirasakan.

Pada tahap awal pemerintahan, pembacaan terhadap opini publik dipandang penting karena memberi kesempatan bagi pemerintah untuk mengenali bidang-bidang yang memerlukan perhatian sebelum persoalan berkembang menjadi ketidakpuasan yang lebih luas. Dalam praktik politik, survei kerap diperlakukan secara selektif: ketika menguntungkan dijadikan bukti keberhasilan, ketika menurun metodologi atau kredibilitas lembaga survei dipersoalkan. Sikap seperti ini dinilai menggeser fungsi survei dari instrumen evaluasi menjadi alat pembenaran.

Penilaian warga, sebagaimana digambarkan dalam tulisan ini, terbentuk dari pengalaman konkret sehari-hari: harga kebutuhan pokok, kesempatan kerja, mutu layanan publik, kepastian hukum, dan rasa aman. Karena itu, penurunan kepuasan tidak serta-merta identik dengan kegagalan, melainkan dapat dipahami sebagai ruang koreksi. Kesediaan menerima umpan balik dipandang sebagai bagian dari tata kelola pemerintahan yang sehat.

Tulisan tersebut juga menekankan bahwa yang semestinya ditanyakan bukan semata mengapa angka kepuasan berubah, melainkan mengapa sebagian warga mulai merasakan jarak antara harapan dan kenyataan. Jawabannya dinilai tidak cukup dicari lewat strategi komunikasi, melainkan melalui penilaian ulang substansi kebijakan, efektivitas pelaksanaannya, serta kemampuan birokrasi merespons perubahan keadaan.

Dalam konteks pengalaman politik Indonesia, kemampuan membaca aspirasi publik dipandang kerap menjadi pembeda antara pemerintahan yang mampu menjaga dukungan dan yang perlahan kehilangan pijakan. Karena itu, pengalaman Presiden Joko Widodo disebut layak dicermati sebagai bahan pembelajaran.

Selama masa pemerintahan Jokowi, kritik terhadap berbagai isu—mulai dari kualitas demokrasi, pembentukan undang-undang, pembangunan Ibu Kota Nusantara, hingga politik dinasti—terus mengemuka. Namun, tingkat kepuasan publik pada akhir masa jabatannya tetap relatif tinggi. Hal ini digambarkan sebagai indikasi bahwa penilaian masyarakat tidak selalu mengikuti kerasnya perdebatan elite; warga lebih dipengaruhi oleh sejauh mana kebijakan menghadirkan manfaat yang dirasakan secara nyata.

Tulisan tersebut menegaskan bahwa setiap pemerintahan lahir dalam konteks berbeda—dipengaruhi perubahan ekonomi global, dinamika geopolitik, perkembangan teknologi, hingga kondisi fiskal. Karena itu, keberhasilan pemerintahan Prabowo disebut tidak dapat diukur dengan perbandingan lurus dengan pemerintahan Jokowi. Meski begitu, ada pelajaran yang dianggap melampaui perbedaan konteks, yakni pentingnya menjaga keselarasan antara arah kebijakan negara dan kebutuhan masyarakat.

Pelajaran lain yang ditekankan adalah bahwa komunikasi politik memiliki batas. Penjelasan pemerintah diperlukan untuk membangun pemahaman publik, tetapi tidak dapat menggantikan kenyataan yang dialami masyarakat. Narasi yang baik disebut hanya akan dipercaya apabila didukung hasil yang nyata.

Bagi pemerintahan Presiden Prabowo, agenda-agenda besar—seperti penguatan ketahanan pangan, hilirisasi industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga program makan bergizi gratis—pada akhirnya akan dinilai dari dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat, sebagaimana digambarkan, tidak mengukur keberhasilan dari besarnya anggaran atau banyaknya regulasi, melainkan dari perubahan yang benar-benar dirasakan.

Dengan demikian, legitimasi demokratis dipandang bersifat dinamis. Mandat pemilu menjadi dasar konstitusional untuk memerintah, tetapi kualitas penyelenggaraan pemerintahan menentukan apakah mandat itu terus memperoleh penerimaan. Evaluasi kebijakan, dalam kerangka ini, bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari mekanisme pemerintahan yang sehat.

Tulisan tersebut menutup dengan penekanan bahwa demokrasi tidak menuntut pemerintah selalu benar, melainkan bersedia belajar. Survei hanya merekam persepsi publik pada satu titik waktu; yang lebih menentukan adalah respons pemerintah terhadap pesan yang tersimpan di balik data. Selama ruang koreksi terbuka, kritik dihargai sebagai bagian dari partisipasi warga, dan kebijakan diarahkan bagi kepentingan umum, kepercayaan masyarakat dinilai memiliki alasan untuk tumbuh.